Satu dari Empat Dewasa Indonesia Alami Obesitas, Disebabkan Gaya Hidup Modern

Satu dari Empat Dewasa Indonesia Alami Obesitas, Disebabkan Gaya Hidup Modern

Jakarta – Problematika kelebihan berat badan atau obesitas kini semakin menjadi perhatian serius di Indonesia, bukan hanya terkait penampilan, tetapi juga sebagai ancaman kesehatan yang nyata.

Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat prevalensi berat badan berlebih mencapai 14,4 persen, sementara obesitas menyentuh angka 23,4 persen. Artinya, hampir satu dari empat orang dewasa Indonesia hidup dengan obesitas, terutama pada usia produktif yang seharusnya berada di puncak kinerja.

Menurut Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, Sp.GK, Subsp.PK, Dokter Spesialis Gizi Klinik di Primaya Hospital Kelapa Gading, meningkatnya obesitas pada usia produktif erat kaitannya dengan gaya hidup modern.

“Pada usia produktif, seseorang sudah memiliki penghasilan dan akses makanan yang lebih luas, tetapi aktivitas fisik justru menurun,” ucap Luciana, dikutip Reallist Media pada Kamis, 5 Maret 2026

“Pola kerja yang banyak duduk, minim olahraga, dan asupan kalori berlebih membuat obesitas sangat mudah terjadi,” katanya.

Ia menekankan bahwa obesitas tidak bisa dinilai hanya dari berat badan atau bentuk tubuh, melainkan juga dari komposisi tubuh dan distribusi lemak, terutama di area perut, yang berisiko secara metabolik meski seseorang tampak tidak terlalu gemuk.

Obesitas menjadi pintu masuk berbagai risiko metabolik, seperti tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, kolesterol abnormal, dan lemak perut berlebih. Kombinasi faktor ini meningkatkan risiko diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan stroke.

Selain itu, obesitas dapat menurunkan energi, menyebabkan mudah lelah, sulit fokus, nyeri sendi, hingga gangguan psikologis. Dalam jangka panjang, kualitas hidup menurun dan risiko penyakit kronis fatal meningkat.

Pola makan tinggi kalori, konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, ditambah gaya hidup sedentari, stres kerja, kurang tidur, serta jam makan tidak teratur memperburuk metabolisme tubuh.

Sayangnya, banyak orang baru menyadari masalah metabolik ketika keluhan sudah muncul. Dr. Luciana menekankan pentingnya skrining kesehatan sejak usia muda.

“Skrining metabolik sebaiknya dimulai sejak usia 20-an dan dilakukan lebih rutin seiring bertambahnya usia, terutama di atas 40 tahun. Tujuannya untuk mendeteksi risiko sejak dini, bahkan sebelum muncul gejala,” ujar Luciana.

Ia juga menegaskan bahwa pengelolaan obesitas tidak bisa diseragamkan. Pendekatan nutrisi medis berbasis gizi seimbang dan kondisi metabolik individu menjadi kunci keberhasilan jangka panjang. Diet instan justru berisiko menimbulkan kurang gizi dan memperburuk metabolisme.

Sebagai langkah awal, dr. Luciana menyarankan agar usia produktif menjaga berat badan ideal, memahami kebutuhan gizi harian, dan membangun gaya hidup sehat secara konsisten sejak dini.

Baca juga: Sosok Putri Wulandari, Dari Modal Rp300.000 Sampai Menjadi Penggerak Mitra Bukalapak

Baca juga: Primaya Hospital Tangerang Resmikan Layanan Poliklinik Eksekutif

“Perubahan kecil yang dilakukan lebih awal dan berkelanjutan jauh lebih efektif dibandingkan upaya instan yang bersifat musiman. Tujuan utamanya bukan hanya menurunkan berat badan, tetapi melindungi kesehatan metabolik jangka panjang,” tuturnya. []

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *