Jakarta – Perdebatan mengenai pengaruh media sosial terhadap kesehatan mental telah lama berlangsung di berbagai belahan dunia. Namun, hingga kini belum ada studi yang benar-benar meyakinkan secara ilmiah apakah media sosial berdampak buruk, netral, atau justru baik bagi penggunanya.
Menjawab pertanyaan tersebut, Princeton University bekerja sama dengan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) melakukan studi eksperimental yang hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan media sosial memiliki pengaruh buruk terhadap kesehatan mental.
Penelitian ini menemukan bahwa berhenti menggunakan media sosial dapat memulihkan kesehatan mental penggunanya. Peneliti Princeton University, Nicholas Kuipers, menyatakan bahwa penonaktifan media sosial meningkatkan kesehatan mental secara substansial.
“Terutama pada mereka yang berhenti menggunakan media sosial bersama seluruh anggota rumah tangga,” ucap Nicholas, dikutip Reallist Media pada Minggu, 22 Maret 2026.
Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, dalam presentasi bertajuk “Efek Media Sosial terhadap Kesehatan Mental”, menjelaskan bahwa studi ini dilakukan dengan metode eksperimental terhadap populasi pengguna media sosial di 30 ibu kota provinsi di Indonesia.
Sebanyak 1502 responden dipilih secara acak menggunakan metode stratified multistage random sampling, lalu diwawancara secara online dalam dua tahap panel.
Wawancara pertama dilakukan ketika responden masih aktif menggunakan media sosial. Setelah itu, mereka dibagi ke dalam tiga kelompok:
- Kelompok T1: diminta berhenti menggunakan media sosial hingga wawancara kedua.
- Kelompok T2: diminta berhenti menggunakan media sosial bersama seluruh anggota rumah tangga.
- Kelompok Kontrol: tetap menggunakan media sosial seperti biasa.
Selang waktu antara wawancara pertama dan kedua adalah satu bulan, yakni dari 17 November–15 Desember 2025 hingga 16 Desember–14 Januari 2026. Studi ini sepenuhnya dibiayai oleh Princeton University.
Variabel yang diteliti meliputi afeksi, kepuasan hidup, rasa cemas, depresi, dan kualitas tidur. Hasilnya menunjukkan bahwa kesehatan mental kelompok T1 dan T2 secara umum lebih baik dibanding kelompok kontrol setelah periode perlakuan selama satu bulan.
Temuan ini memberikan bukti kuat bahwa penggunaan media sosial dapat berdampak negatif terhadap kesehatan mental, dan bahwa penonaktifan media sosial, terutama jika dilakukan bersama anggota rumah tangga, mampu memberikan pemulihan signifikan.
Baca juga: Primaya Hospital Tangerang Resmikan Layanan Poliklinik Eksekutif
Baca juga: Pilates Hunter Kemang Resmi Dibuka, Hadirkan Instruktur Bersertifikat dari New York
Video presentasi hasil survei dapat disaksikan melalui kanal YouTube SMRC, sementara laporan lengkap survei bisa diakses di situs resmi SMRC. []

