Boy Warongan Luncurkan Album Juang Angan, Terinspirasi Ade Paloh, Dipoles Sigit Pramudita

Boy Warongan Luncurkan Album Juang Angan, Terinspirasi Ade Paloh, Dipoles Sigit Pramudita

Jakarta — Penyanyi Boy Warongan resmi meluncurkan album perdananya bertajuk Juang Angan. Karya teranyar yang berisikan delapan lagu ini dirilis sebagai catatan batinnya atas kehidupan kota yang berjalan cepat, nyaris tanpa jeda.

“Delapan lagu di dalamnya sebagai pelayaran yang tidak hadir sebagai jawaban, melainkan sebagai upaya lebih jauh memahami rindu, ambisi, kelelahan, dan kerapuhan yang berkelindan dengan hidup sehari-hari,” kata Boy Warongan melalui rilis pers resmi dikutip Senin (23/2/2026).

Boy mengaku terinspirasi dengan sosok mendiang vokalis SORE Ade Paloh yang menjadi dorongannya untuk menelurkan album “Juang Angan”.

“Ngapain cuma satu lagu, sekalian satu album saja,” ucap Boy menirukan ucapan Ade Paloh kala itu.

Boy menceritakan, Juang Angan kemudian menjadi karya terakhir yang sempat diproduksi oleh Ade Paloh sebelum wafat.

Setahun setelah kepergian Ade Paloh, Boy melanjutkan proses kreatif bermusiknya bersama Sigit Pramudita dan Sekaranggi dari Tigapagi. Keduanya membantu menjahit proyek yang sempat tertunda hingga menjadi album yang rampung dan utuh, tanpa kehilangan napas gagasan yang sejak awal ingin dijaga Boy.

Secara musikal, Juang Angan bergerak lentur di antara berbagai genre—pop, groove, soul, funk-pop, country, hingga folk. Namun, kekuatannya justru terletak pada lirik yang dalam dan makna yang bercabang ada sastrawi, tetapi tetap membumi.

“Album ini menaruh perhatian khusus pada tema pulang yang hadir dalam tiga lagu dengan pendekatan berbeda. Belum Boleh Pulang berbicara tentang rindu yang tertahan oleh tuntutan duniawi. Sudah Boleh Pulang menghadirkan penerimaan spiritual yang lebih damai. Sementara Janji Pulang memosisikan pulang sebagai komitmen abadi pada tujuan akhir,” kata Boy Warongan.

Boy Warongan membaca “pulang” lebih jauh dari sekadar ihwal spasial. Bagi Boy, pulang juga merupakan perjalanan emosional dan spiritual gagasan yang terus bergerak, berpindah dari tubuh ke batin, lalu dari rutinitas ke kesadaran. Lewat album ini, ia mencoba membaca ulang makna pulang sebagai pengalaman yang akrab bagi banyak orang dewasa, namun kerap tak selesai dibicarakan.

Selain trilogi “pulang” tersebut, lagu-lagu lain seperti Kertas Lipat, Camar dalam Sangkar, Serigala Kota, Kaji, dan Juang Angan memperluas lanskap tematik album ini.

Melalui tema spiritualitas, Boy juga memotret absurditas kehidupan urban dari sistem yang kaku, peran yang mengekang, hingga kaburnya batas antara kenyataan dan muslihat di ruang digital.

Meski vokal Boy Warongan menjadi poros utama, Juang Angan bukanlah karya yang berjalan sendiri.

Sejumlah kolaborator turut hadir di antaranya Gabriella Fernaldi, Abyan Zaki “Acin” Nabilio, dan J. Alfredo (Romantic Echoes).

“Kehadiran mereka membuat album ini terasa lebih guyub, berlapis, dan bertekstur,” kata Boy.

Pada akhirnya, Juang Angan dapat dibaca sebagai cara Boy Warongan berbicara tentang diri, kota, masyarakat, ambisi, serta kerapuhan manusia semuanya bermuara pada satu hal yang sama yakni keinginan untuk kembali ke rumah, dalam pengertian yang paling dalam dan personal.

“Album Juang Angan kini telah tersedia dan dapat dinikmati di seluruh layanan digital streaming platform, termasuk Spotify, Apple Music, dan YouTube Music,” kata Boy Warongan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *