Advokat Anak Desak Konten AI Slop Dihapus dari YouTube Kids

Advokat Anak Desak Konten AI Slop Dihapus dari YouTube Kids

Jakarta – Platform YouTube Kids kembali menjadi sorotan setelah lebih dari 200 dokter anak, kelompok advokasi, dan sekolah menandatangani surat terbuka kepada CEO Google Sundar Pichai dan CEO YouTube Neal Mohan.

Mereka mendesak agar Google segera menghapus konten video buatan AI berkualitas rendah—yang disebut AI slop—dari YouTube dan YouTube Kids, karena dianggap berpotensi membahayakan anak-anak.

Kekhawatiran Advokat Anak

Surat tersebut menyoroti bahwa konten AI slop tidak memiliki bukti keamanan bagi anak-anak. Video-video ini dinilai hanya dirancang untuk menarik perhatian, bukan memberikan nilai edukasi.

Para advokat khawatir konten semacam ini dapat:

  • Mengganggu tingkat konsentrasi anak.
  • Mengaburkan batas antara dunia nyata dan buatan.
  • Menambah masalah screen time yang sudah menjadi perhatian orang tua.

“Mengingat tidak adanya bukti bahwa konten AI slop aman bagi anak-anak dan potensi video-video ini untuk memikat dan membahayakan anak-anak, Google harus segera mengambil tindakan,” demikian bunyi surat tersebut, dikutip Reallist Media pada Minggu, 5 April 2026.

Tudingan Eksperimen Tidak Terkontrol

Kelompok advokasi menuduh YouTube melakukan “eksperimen tidak terkontrol” pada anak-anak dengan mendorong konten buatan AI tanpa bukti manfaat jelas. Mereka juga meluncurkan petisi publik yang menuntut kebijakan baru, di antaranya:

  1. Label jelas pada semua konten buatan AI.
  2. Larangan konten AI di YouTube Kids.
  3. Larangan video “Made for Kids” yang dibuat oleh AI.
  4. Larangan rekomendasi algoritma konten AI untuk pengguna di bawah 18 tahun.
  5. Tombol khusus agar orang tua bisa memblokir konten AI.
  6. Menghentikan investasi dalam produksi video AI untuk anak-anak.

Respons YouTube

Menanggapi hal tersebut, juru bicara YouTube menyatakan bahwa pihaknya sudah membatasi konten AI di YouTube Kids hanya pada saluran tertentu yang diverifikasi. Kreator juga diwajibkan memberi keterangan jika video dibuat menggunakan AI.

Pihak YouTube mengklaim sistemnya dirancang untuk menghukum konten spam yang diproduksi massal. Namun, bagi para kritikus, langkah ini dianggap belum cukup.

Kontradiksi dengan Investasi Google

Di sisi lain, Google baru-baru ini berinvestasi di Animaj, studio animasi berbasis AI yang fokus memproduksi video anak-anak di YouTube.

Konten Animaj telah ditonton miliaran kali, menimbulkan pertanyaan serius tentang komitmen Google terhadap perlindungan anak.

Kontroversi ini menyoroti dilema besar bagi platform digital, yakni bagaimana menyeimbangkan inovasi teknologi AI dengan tanggung jawab melindungi anak-anak dari konten yang berpotensi merugikan.

Baca juga: SM Entertainment Garap Program untuk Dukung Anak Indonesia Bareng UNICEF

Baca juga: Laleilmanino Garap Single Sikilku Iso Muni, OST Film Anak Na Willa

Dengan semakin banyaknya suara dari dokter, sekolah, dan advokat, tekanan terhadap Google dan YouTube untuk bertindak tegas semakin kuat. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *