Studi Monash University Sebut Perubahan Iklim Pacu Lonjakan Malaria serta Demam Berdarah

REALLISTMEDIA.COM – Jakarta – Ancaman perubahan iklim global ternyata membawa dampak yang jauh lebih luas dari sekadar kenaikan suhu bumi. Berdasarkan studi terbaru yang dirilis oleh para peneliti dari Monash University, krisis iklim terbukti memperparah beban penyakit bawaan nyamuk, seperti malaria dan demam berdarah dengue (DBD).

Kajian komprehensif yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Science Advances ini mengupas secara mendalam bagaimana kompleksitas faktor ekologi, epidemiologi, serta sosial-ekonomi saling berkelindan dan memengaruhi pola penularan kedua penyakit tersebut di berbagai belahan dunia.

Ancaman Nyata Gigitan Nyamuk

Secara medis, malaria merupakan penyakit serius yang mengancam nyawa akibat infeksi parasit yang menular melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Sementara itu, demam berdarah disebabkan oleh virus yang ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes betina yang terinfeksi.

Setiap tahunnya, nyamuk-nyamuk pembawa patogen ini menginfeksi ratusan juta orang di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, situasinya menunjukkan tren yang mengkhawatirkan.

Kasus malaria dilaporkan melonjak drastis hingga 69 persen dalam rentang waktu dua tahun, dari 418.000 kasus pada 2023 menjadi 706.000 kasus, yang tercatat sebagai angka tertinggi sepanjang sejarah nasional.

Pada periode yang sama, DBD juga menyerang sekitar 161.937 penduduk atau setara dengan 57,02 kasus per 100.000 populasi.

Perubahan Iklim dan Perluasan Habitat Nyamuk

Peneliti utama dari Health and Climate Initiative di Monash School of Public Health and Preventive Medicine, Dr. Toby Cumming, menjelaskan bahwa pemahaman mendalam mengenai faktor pendorong penularan adalah kunci utama dalam merumuskan respons kesehatan masyarakat yang efektif.

“Perubahan iklim menyebabkan kenaikan suhu dan pergeseran pola curah hujan, sehingga memperluas wilayah yang cocok bagi populasi nyamuk Anopheles dan Aedes untuk berkembang pesat,” ujar Dr. Cumming, dikutip Reallist Media pada Sabtu, 10 Oktober 2026.

Menurutnya, pengaruh faktor iklim ini bersifat kompleks karena tidak linier, sangat bergantung pada musim, serta bervariasi di tiap daerah. Meskipun demikian, dampaknya terhadap tren penularan malaria dan demam berdarah secara umum menunjukkan pola yang serupa.

Kendati demikian, Dr. Cumming mencatat adanya paradoks menarik dalam satu abad terakhir. Di tengah fenomena pemanasan global yang kian nyata, angka kasus malaria global justru menunjukkan penurunan jangka panjang—meski dalam satu dekade terakhir sempat naik 8,5 persen—sementara angka kasus demam berdarah justru melonjak tajam.

Faktor Non-Iklim dan Dinamika di Indonesia

Menanggapi perbedaan pola tersebut, rekan peneliti dari Monash University Indonesia, Associate Professor Henry Surendra, menyoroti peran penting faktor lingkungan dan aktivitas manusia dalam mendorong perubahan populasi vektor penyakit di masyarakat.

“Upaya pengendalian nyamuk dan terapi pengobatan telah berhasil mengurangi penularan malaria secara signifikan. Namun, meningkatnya urbanisasi justru mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes, sehingga mempercepat penyebaran demam berdarah, yang hingga kini belum memiliki obat khusus,” jelas Associate Professor Henry.

Kontribusi Nyata

Sebagai bentuk kontribusi nyata di lapangan, Associate Professor Henry bersama timnya saat ini tengah bekerja sama dengan Kementerian Indonesia.

Mereka berupaya mengidentifikasi faktor iklim, lingkungan, serta demografi yang berkaitan erat dengan angka kejadian malaria dan DBD, khususnya di kawasan-kawasan dengan keanekaragaman hayati tinggi seperti Kalimantan Timur.

Melihat tren yang ada, Dr. Cumming menegaskan bahwa dunia tidak boleh lengah menghadapi situasi ini.

“Tren kasus malaria belakangan ini dan lonjakan pesat demam berdarah sama-sama mengkhawatirkan. Kita harus meningkatkan upaya pencegahan dan penanggulangan,” katanya.

Inovasi Pencegahan Terpadu

Di tengah tantangan yang kian kompleks, berbagai inovasi pencegahan demam berdarah mulai bermunculan. Salah satu terobosan mutakhir adalah pengembangan vaksin serta strategi pengendalian vektor yang inovatif, seperti pelepasan bakteri Wolbachia ke dalam populasi nyamuk Aedes.

Metode ini terbukti efektif menekan kemampuan nyamuk dalam menularkan virus DBD, sebuah inovasi membanggakan yang dikembangkan oleh World Mosquito Program, konsorsium nirlaba milik Monash University.

Kesimpulan Study

Para ahli menyimpulkan bahwa penanganan masalah ini tidak bisa dilakukan secara parsial. Upaya pencegahan yang komprehensif, mulai dari pengendalian vektor yang ketat, pelaksanaan vaksinasi yang masif, hingga komitmen global dalam pengurangan emisi gas rumah kaca untuk menahan laju pemanasan global—menjadi harga mati.

Baca juga: Survei Sun Life Sebut Perempuan Indonesia Masih Abaikan Kesehatan Demi Keluarga

Baca juga: Lomba, Cek Kesehatan hingga Pembagian Sembako Warnai Gelaran Jamuan Rakyat Semarak Merah Putih

“Pada akhirnya, penelitian kami menegaskan kembali pentingnya pendekatan yang terkoordinasi, mencakup berbagai intervensi untuk mengatasi faktor iklim dan non-iklim yang memicu penyebaran penyakit bawaan nyamuk,” tutur Dr. Cumming. []

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *