Jakarta – Setelah sukses dengan enam edisi sebelumnya, program Anthology of Indonesian Music yang digagas oleh L’Atelier by Cyril Kongo kembali hadir dengan konsep terbaru bertajuk “A Timeless Symphony: Indonesian Treasure”.
Program ini menegaskan komitmen berkelanjutan untuk melestarikan kekayaan musik Indonesia, sekaligus menghadirkan pengalaman musikal yang lebih mendalam bagi para penonton.
Maestro dan Komposer Ternama
Edisi kali ini menghadirkan Maestro Budi Utomo Prabowo, sosok kreatif di balik seri pertama Anthology of Indonesian Classical Music, yang berkolaborasi dengan komponis ternama Indonesia, Aksan Sjuman.
Keduanya menghadirkan reinterpretasi karya-karya klasik yang dibawakan oleh Nada 1928, memperkaya pengalaman musikal dengan sentuhan baru yang tetap menghormati akar tradisi.
Perjalanan Musikal ke Era 1950-an
Acara ini berlangsung di bar ikonik The Apurva Kempinski Bali, yang menawarkan suasana elevated dengan pemandangan pesisir. Penonton diajak melakukan perjalanan musikal ke era 1950-an melalui kurasi komposisi abadi Indonesia.
Lebih dari sekadar pertunjukan nostalgia, acara ini dirancang sebagai perjalanan intim yang disertai segmen diskusi.
Dalam sesi tersebut, Aksan Sjuman dan Budi Utomo Prabowo membedah narasi sejarah serta makna budaya di balik setiap karya yang ditampilkan.
Kolaborasi Musisi Multi-Talenta
Panggung Anthology kali ini turut menghadirkan produser jazz multi-talenta Andreas Arianto, yang memimpin set berisi lebih dari 10 lagu. Ia didukung oleh Pankrasius Savio (piano), Louise Mitak (bass), Rio Herwindo (viola), dan Roy Setiawan (drum).
Lini vokal pun tampil lengkap dengan Ras Gito, Ope Dahlan, Eka Wirayanti, dan Lyta Lautner, menjadikan pertunjukan ini kaya warna dan tekstur musikal.
Inspirasi dari Arsip Musik Indonesia
Program Anthology of Indonesian Music terinspirasi dari karya-karya ensiklopedis yang disusun oleh Dewan Kesenian Jakarta, hasil kolaborasi tokoh-tokoh berpengaruh seperti Aisha Sudiarso-Pletscher, Aksan Sjuman, Anusirwan, dan Budi Utomo Prabowo.
Arsip ini mencatat evolusi lanskap musik Indonesia, dimulai dari Anthology of Indonesian Classical Music: Vocal and Piano Seriosa (2013), dilanjutkan dengan Anthology of Indonesian Music: Jazz and Popular Music (2017). Bersama-sama, karya ini memberikan perspektif komprehensif tentang warisan musikal bangsa.
Komitmen Budaya dan Legacy
General Manager The Apurva Kempinski Bali, Vincent Guironnet, menegaskan bahwa setiap edisi Anthology semakin memperdalam keinginan untuk menghadirkan musik beserta kekuatan dan kisah di baliknya, terutama bagi generasi muda.
“Kami tidak pernah melihat peran kami hanya sebatas membangun hotel atau mengkurasi pengalaman yang berpusat pada fasilitas kami,” kata Vincent Guironnet, dikutip Reallist Media pada Senin, 21 April 2026.
“Kami hadir untuk meninggalkan warisan, berkontribusi secara bermakna pada kerajinan budaya Indonesia, dan memastikan kisah-kisahnya terus hidup,” ujarnya.
Simfoni Abadi untuk Generasi Mendatang
Dengan konsep “A Timeless Symphony: Indonesian Treasure”, Anthology of Indonesian Music tidak hanya menjadi ajang pertunjukan, tetapi juga wadah refleksi, edukasi, dan apresiasi terhadap kekayaan musik Indonesia.
Baca juga: 8 Rekomendasi Kafe WFC Paling Estetik di Jakarta 2026
Baca juga: BBQ Cook Out Hadir Kembali di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta
Program ini menegaskan bahwa musik adalah warisan budaya yang harus terus dijaga, dikenalkan, dan dirayakan lintas generasi. []

