Jakarta – Di tengah ramainya industri kecantikan lokal Indonesia, kisah Six Scents hadir sebagai salah satu cerita paling personal dan inspiratif.
Brand aromaterapi dan wewangian ini didirikan oleh Vallen Hertansia, bukan dari ruang rapat atau laboratorium pemasaran, melainkan dari momen sunyi sebuah krisis kesehatan.
Dari kebutuhan akan produk yang murni dan dorongan untuk hidup lebih mindful, lahirlah perjalanan Six Scents.
Titik Balik: Dari Dunia Teknik ke Aromaterapi
Latar belakang Vallen jauh dari dunia parfum. Ia menekuni bidang teknik elektro dan sipil, dunia yang penuh presisi dan perhitungan. Namun pada tahun 2014, sebuah diagnosis penyakit autoimun mengubah segalanya.
“Saat itu menjadi titik balik dalam hidup saya. Saya jadi jauh lebih sadar terhadap produk yang saya gunakan sehari-hari,” tutur Vallen Hertansia, dikutip Reallist Media pada Selasa, 21 April 2026.
“Saya menyadari bahwa produk benar-benar natural di Indonesia masih sulit ditemukan. Banyak brand mengklaim ‘natural,’ tapi labelnya tidak transparan untuk kebutuhan kesehatan saya,” ujar dia.
Awalnya, ia hanya berusaha menciptakan produk perawatan tubuh yang aman untuk dirinya sendiri. Namun setelah bertahun-tahun bereksperimen dengan campuran botani dan minyak esensial, pada 2019 Six Scents resmi diperkenalkan ke publik.
Filosofi Sixth Sense
Nama Six Scents memang permainan kata, tetapi maknanya lebih dalam dari sekadar judul catchy. Jika manusia mengenal lima indera fisik, Vallen percaya ada indera keenam yang vital, yaitu Empati.
“Empati adalah kemampuan kita untuk merasakan di luar diri sendiri. Tentang bagaimana pilihan kita memengaruhi orang lain, komunitas, dan lingkungan,” ucapnya.
“Kami ingin merayakan keindahan sensori kehidupan sambil tetap sadar akan koneksi yang kita bagi dengan dunia,” katanya.
Merangkai Kenangan dalam Botol
Berbeda dengan brand yang mengejar tren pasar sesaat, Six Scents menekankan jiwa dan cerita. Setiap wewangian adalah kenangan yang dibotolkan atau pengalaman lokal yang diabadikan.
- Magical Ubud: Menangkap keindahan tenang bunga kamboja Bali.
- Peaceful Jogja: Terinspirasi dari ritual siraman Jawa dengan bunga melati.
- Vintage Library & Forget Jakarta: Favorit pribadi Vallen yang membangkitkan suasana nostalgia dan atmosfer tertentu.
Untuk menjaga kualitas premium tetap terjangkau, Six Scents bekerja sama dengan petani lokal. Formulasi yang “intentional” ini memungkinkan brand mempertahankan standar tinggi sekaligus mendukung ekonomi lokal.
Mengatasi Stigma Brand Lokal
Menjual parfum secara daring bukanlah hal mudah. Tantangan utamanya: bagaimana menjual aroma yang tidak bisa dicium langsung? Vallen mengatasinya dengan storytelling yang kuat dan konsistensi estetika.
Melalui deskripsi yang evocative dan identitas visual modern, Six Scents membuat pelanggan “merasakan” aroma lewat layar.
Dedikasi terhadap keaslian ini berbuah pengakuan. Pada Februari 2026, Six Scents meraih penghargaan Pengusaha Muda BRIlian, menegaskan pengaruhnya yang semakin besar di pasar Indonesia.
Menuju Brand Gaya Hidup Holistik
Ke depan, Vallen membayangkan Six Scents berkembang melampaui parfum menjadi brand gaya hidup sensori holistik. Rencana ekspansi mencakup wewangian rumah dan produk body care terkait wellness.
Untuk para wirausahawan muda, Vallen memberikan nasihat sederhana yang terinspirasi dari tokoh animasi ikan biru terkenal, yakni “Just keep swimming”. Ia menekankan pentingnya memulai dari hal yang benar-benar berarti bagi diri sendiri.
“Keaslian adalah kunci. Ketika brand mencerminkan nilai-nilai Anda, orang akan terhubung. Anda tidak perlu punya semua jawaban di awal—yang penting adalah ketekunan untuk terus bergerak maju,” kata Vallen.
Baca juga: The Sira, A Luxury Collection Resort & Spa, Mutiara Surga di Tanah Lombok
Baca juga: Pilates Hunter Kemang Resmi Dibuka, Hadirkan Instruktur Bersertifikat dari New York
Dengan filosofi empati, komitmen terhadap kualitas, dan keberanian menghadapi stigma, Six Scents bukan hanya brand parfum, tetapi simbol perjalanan personal yang menjelma menjadi warisan aroma autentik Indonesia. []

