REALLISTMEDIA.COM – Jakarta – Kunjungan musisi legendaris tanah air, Virgiawan Listianto atau yang lebih dikenal sebagai Iwan Fals, ke Pancoran Soccer Field (PSF), Jakarta, menghadirkan perspektif baru dalam diskursus pembinaan sepak bola nasional.
Di sela-sela memantau berjalannya kompetisi pembinaan usia muda, Liga Jakarta U-15 dan U-16 musim 2026, pelantun lagu Bongkar tersebut menyampaikan kritik sekaligus gagasan strategis mengenai arah kebijakan Persatuan Seluruh Sepak Bola Indonesia (PSSI).
Dalam dialognya bersama operator liga, mBah Coco, Iwan menyoroti pentingnya menjadikan akar rumput atau budaya sepak bola antarkampung (tarkam) sebagai landasan filosofis pembinaan sepak bola Indonesia, yang dikelola secara profesional dan modern.
Menurut Iwan, budaya sepak bola tarkam yang telah lama mendarah daging di tengah masyarakat Indonesia memiliki potensi ekosistem sosial yang sangat kuat. Ia berpandangan bahwa federasi seharusnya merangkul realitas tersebut alih-alih mengabaikannya.
“Ada ekosistem yang langsung dibangun, jika dilakukan Liga Tarkam. Semua unsur keluarga ikut langsung terlibat. Ada Liga Anak, ada Liga Remaja, dan Liga Orang Dewasa,” tutur Iwan Fals, dikutip Reallist Media pada Senin, 26 Oktober 2026.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa apabila PSSI mampu mengorganisasi kompetisi berjenjang mulai dari tingkat desa hingga provinsi, maka ekosistem olahraga nasional akan terbentuk secara organik.
Keterlibatan masyarakat tidak hanya terbatas pada aspek olahraga, melainkan merambah pada sektor pendukung seperti pemenuhan gizi, kesehatan, dan kedisiplinan mental para atlet muda.
“Bahkan, semua warga saling gotong royong, ada yang bermain bola, atau semua cabang olahraga, dan ada yang membidani masalah disiplin mental, disiplin gizi, dan disiplin kesehatan, menjadi saling tumbuh membantu,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Iwan juga melontarkan kritik konstruktif terkait popularitas kepengurusan sepak bola nasional yang kerap lebih menonjol dibandingkan para atletnya sendiri, kontras dengan kondisi di negara-negara dengan tradisi sepak bola yang mapan.
“Di Indonesia, yang terkenal bukan pemainnya, tapi ketua umumnya, aneh bin ajaib?” ujarnya.
Iwan turut mempertanyakan efektivitas orientasi pembinaan jangka panjang saat ini, dengan menyoroti minimnya representasi pemain dari wilayah Indonesia Timur, seperti Papua dan Maluku, dalam skuad kelompok umur nasional.
Ia merefleksikan pertanyaan klasik yang kerap berulang dari era kepemimpinan nasional masa lalu hingga saat ini, bahwa mengapa dengan populasi ratusan juta jiwa, Indonesia masih menghadapi kendala mendasar dalam melahirkan skuad tim nasional yang kompetitif, sementara negara dengan populasi kecil seperti Tanjung Verde (Cape Verde) mampu menembus putaran final Piala Dunia FIFA 2026?
Menanggapi fenomena tersebut, Iwan menilai bahwa PSSI cenderung mengambil jalan pintas melalui naturalisasi pemain keturunan ketimbang membangun fondasi pembinaan domestik yang kokoh.
“Makanya, jika semua penduduk Indonesia, yang punya budaya akut, yaitu bola tarkam digalakkan sampai ke ujung desa, sepertinya ekosistem sepakbola modern bisa tercapai. Saat ini, PSSI hanya doyan ngurus pemain bule, tapi tak mengenal budaya bola Indonesia,” tuturnya.
Ia menyarankan agar federasi mengadopsi sistem pembinaan yang terstruktur seperti di negara-negara maju, dengan tetap berpijak pada karakteristik lokal bangsa Indonesia.
Gagasan Liga Tarkam yang disampaikan Iwan Fals turut mencakup aspek kemandirian ekonomi berbasis pedesaan. Ia memaparkan bahwa masyarakat di tingkat desa dapat dilibatkan dalam rantai pasok kebutuhan nutrisi atlet, mulai dari pertanian tanaman bergizi hingga peternakan.
Selain itu, ia menekankan perlunya keterlibatan aktif para pemangku kepentingan, termasuk pelatih dan perangkat PSSI, untuk turun langsung ke daerah-daerah guna memahami realitas pembinaan di akar rumput.
“Pelatih, wasit, dan pengurus PSSI jangan hanya duduk-duduk di ruangan ber-AC. Mereka bisa disubsidi negara dan pemerintah, untuk bisa turun ke desa-desa, agar merasa memiliki sepakbola, bergaya tarkam. Itulah sejatinya filosofi sepakbola Indonesia,” ucapnya.
Menjelang peringatan satu abad Sumpah Pemuda pada tahun 2028 mendatang, Iwan menyampaikan pesan reflektif kepada Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, beserta jajarannya untuk memikirkan warisan jangka panjang yang substansial bagi kemajuan bangsa, serta menjaga independensi sepak bola dari intervensi kepentingan politik praktis.
Baca juga: Sambangi Jakarta Bareng Park Ji-sung, Patrice Evra Puji Keindahan dan Kuliner Indonesia
Baca juga: Indonesia Golf Festival (IGF) 2026 Sukses Digelar, Dorong Pertumbuhan Industri Golf Nasional
Rangkaian kunjungan tersebut ditutup dengan pengamatan langsung oleh Iwan terhadap sesi latihan akademi sepak bola internasional di fasilitas PSF Pancoran, sebagai perbandingan terhadap standar pengelolaan pembinaan usia dini yang berlaku saat ini. []




