REALLISTMEDIA.COM – Jakarta – Kasus Penyakit Jantung Koroner (PJK) yang kian kompleks menuntut tingkat penanganan medis yang semakin advanced serta didukung oleh keahlian tim dokter yang teruji matang.
Menjawab tantangan tersebut, dalam rangkaian peringatan Hari Jantung Sedunia, Mayapada Hospital Jakarta Selatan (MHJS) yang merupakan flagship hospital dari Mayapada Healthcare berkolaborasi dengan Perhimpunan Intervensi Kardiovaskuler Indonesia (PIKI) sukses menyelenggarakan Strategic PCI Meeting 2026.
Ajang bergengsi ini mempertemukan lebih dari 50 dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari berbagai penjuru tanah air, khususnya para praktisi kardiologi intervensi, untuk memperbarui pengetahuan, bertukar pengalaman klinis, serta mendalami strategi mutakhir dalam menangani kasus PJK kompleks melalui prosedur Complex Percutaneous Coronary Intervention (PCI).
Bagi masyarakat awam, PCI dikenal luas sebagai prosedur tindakan minimal invasif untuk membuka sumbatan pada pembuluh darah jantung atau yang populer disebut sebagai “pasang ring jantung”.
Menariknya, forum ini tidak hanya sebatas diskusi teoretis semata, melainkan juga menghadirkan demonstrasi langsung (live case) penanganan pasien dengan kasus sumbatan jantung kompleks di ruang Cath Lab sebagai sarana pembelajaran klinis bersama.
Hospital Director Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Fiktorius Kuludong, MM, menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya atas kepercayaan yang diberikan oleh PIKI. Menurutnya, kolaborasi ini menjadi momentum penting bagi rumah sakit untuk berkontribusi secara nyata dalam pengembangan dunia kedokteran kardiovaskular di Indonesia.
“Kami mengapresiasi kepercayaan PIKI kepada Mayapada Hospital Jakarta Selatan untuk berkolaborasi dalam penyelenggaraan Strategic PCI Meeting 2026,” ujar dr. Fiktor, dikutip Reallist Media pada Senin, 12 Oktober 2026.
“Melalui sesi live case advanced PCI, tim dokter kami dapat berbagi pengalaman dan mendiskusikan berbagai strategi penanganan sumbatan jantung kompleks bersama para dokter spesialis jantung dari berbagai wilayah Indonesia. Kami berharap kolaborasi ini dapat terus mendorong peningkatan kompetensi medis dan kualitas perawatan pasien jantung,” katanya.

Lebih lanjut, dr. Fiktor menjelaskan bahwa layanan Cardiovascular Center MHJS telah dilengkapi dengan infrastruktur dan kapabilitas yang komprehensif.
Penanganan kasus kompleks di pusat layanan jantung ini mencakup berbagai prosedur intervensi hingga bedah jantung, baik secara terbuka maupun minimal invasif dengan meminimalkan sayatan.
“Cardiovascular Center MHJS didukung kolaborasi tim dokter spesialis dan subspesialis berpengalaman serta teknologi mutakhir, seperti pemeriksaan diagnostik SPECT Scan untuk mengevaluasi aliran darah ke otot jantung dan mendeteksi area yang kekurangan aliran darah, hingga sistem robotik da Vinci untuk tindakan sesuai indikasi,” tuturnya.
“Kami menangani berbagai kasus jantung kompleks, mulai dari gangguan irama jantung (aritmia) melalui tindakan ablasi, penggantian katup jantung mitral dan aorta secara minimal invasif, kelainan pembuluh darah aorta, hingga penyakit jantung bawaan pada anak. Kapabilitas ini terus kami kembangkan untuk menghadirkan perawatan jantung kompleks yang semakin komprehensif,” ucap dr. Fiktor.
Agenda inti dari Strategic PCI Meeting 2026 diisi dengan dua sesi live case eksklusif di Cath Lab Mayapada Hospital Jakarta Selatan.
Para dokter spesialis jantung membedah langsung penerapan strategi Complex PCI, mulai dari evaluasi anatomi pembuluh darah yang teliti, pemilihan perangkat intervensi yang tepat, hingga kalkulasi pertimbangan klinis pada kasus beresiko tinggi.
Pada sesi live case pertama, dr. Muhammad Barri Fahmi, Sp.JP(K), FIHA, FAPSIC dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan berkolaborasi dengan dr. Aron Husink, Sp.JP, Subsp.KI(K), FIHA, FSCAI dari Mayapada Hospital Tangerang dan dr. Dendi Puji Wahyudi, SpJP(K) dari Mayapada Hospital Bandung. Mereka mendemonstrasikan penanganan tantangan teknis pada pembuluh darah koroner yang sulit dijangkau.
Menjelaskan teknis medis tersebut, dr. Muhammad Barri Fahmi memaparkan bahwa tidak semua sumbatan jantung dapat ditangani dengan pendekatan yang sama.
“Pada kasus dengan pembuluh darah sangat berkelok, penyempitan berat, atau lokasi sumbatan yang sulit dijangkau, dokter membutuhkan teknik dan perangkat khusus,” katanya.
“Salah satunya melalui penggunaan guide extension catheter, yaitu kateter tambahan yang membantu perangkat intervensi mencapai area sumbatan secara lebih optimal, dengan tetap mengutamakan keselamatan pasien,” ucapnya.
Sementara itu, sesi live case kedua dipimpin oleh dr. Ika K. Dhanudibroto, Sp.JP, Subsp.KI(K), FIHA dan dr. Christian Sunur, Sp.JP(K), FIHA dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, bersama dr. Amir Aziz Alkatiri, Sp.JP(K), FIHA, FAsCC, FSCAI dari Mayapada Hospital Kuningan dan dr. Bimo Bintoro, Sp.JP(K) dari Mayapada Hospital Bogor.
Sesi ini menitikberatkan pada kompleksitas formulasi strategi PCI yang dipetakan berdasarkan anatomi pembuluh darah, karakteristik sumbatan, hingga profil klinis pasien secara holistik.
“Tantangan penanganan PJK kompleks bukan hanya membuka sumbatan, tetapi juga menentukan strategi tindakan yang paling tepat bagi setiap pasien,” tutur dr. Ika K. Dhanudibroto..
“Lokasi dan karakteristik sumbatan, anatomi pembuluh darah, hingga penyakit penyerta atau komorbid menjadi pertimbangan penting dalam merencanakan tindakan. Melalui Strategic PCI Meeting 2026, kami dapat berbagi pengalaman dan mendiskusikan pendekatan klinis yang semakin personal, agar pasien memperoleh hasil perawatan dan kualitas hidup yang lebih baik,” ujarnya.
Keunggulan dari pusat layanan jantung Mayapada Hospital Jakarta Selatan tidak hanya bertumpu pada kecanggihan teknologi dan tindakan medis advanced, melainkan juga konsistensi dalam merawat kesinambungan pengalaman pasien sejak langkah pertama pemeriksaan.
Hal tersebut ditegaskan oleh Chief Operating Officer Mayapada Hospital Jakarta Selatan, Joyce Rahayu Kusumariyadi, yang hadir dalam acara tersebut.
“Kami menghadirkan layanan jantung terintegrasi, mulai dari Chest Pain Unit untuk evaluasi awal nyeri dada yang terhubung dengan Cardiac Emergency 24/7 dan didukung dokter spesialis yang siaga on-site selama 24 jam, hingga pendampingan personal melalui Cardiac Advisor serta layanan ambulans gratis dalam radius kurang dari 10 kilometer sesuai ketentuan yang berlaku,” kata Joyce.
Baca juga: Tangani Kanker, Primaya Hospital Kelapa Gading Hadirkan Teknologi HIPEC dan CRS
Baca juga: Studi Princeton dan SMRC Pertegas Fakta Media Sosial Buruk bagi Kesehatan Mental
“Kami juga terus memperluas akses melalui kolaborasi dengan mitra asuransi, perusahaan, komunitas, dan jejaring kesehatan, agar semakin banyak masyarakat memperoleh layanan jantung yang komprehensif dan sesuai kebutuhan medisnya,” tuturnya.[]




