REALLISTMEDIA.COM – Jakarta – Kiprah Dimas Supartono di industri musik nasional telah lama dikenal luas, utamanya sebagai produser rekaman sekaligus putra dari mendiang musisi terkemuka, Tono Supartono. Kendati demikian, dinamika profesional sang produser kini memasuki fase baru seiring langkah strategisnya melebarkan sayap ke sektor bisnis properti.
Melalui kepemimpinannya di PT Karya Perkasa Indonesia, Dimas mengambil peran sentral dalam pengembangan kawasan hunian skala menengah, Nuansa Indah Village, yang terletak di kawasan Sawangan, Depok, Jawa Barat.
Inisiatif pembangunan kawasan hunian ini bermula dari kepekaan manajemen dalam mengidentifikasi potensi pasar serta ketersediaan aset lahan di wilayah Depok. Keputusan untuk mengakuisisi dan mengembangkan lahan tersebut didasari oleh peluang ekonomi yang dinilai sangat kompetitif.
“Karena adanya kesempatan dan peluang yang baik di daerah Depok yang sedang saya kembangkan,” ujar Dimas Supartono, dikutip Reallist Media pada Senin, 2 November 2026.
“Mengingat pembebasan tanah di beberapa tahun yang lalu dengan harga yang cukup baik,” tuturnya.
Secara keseluruhan, proyek Nuansa Indah Village dirancang di atas lahan seluas 26 hektare. Dari total luas area tersebut, tahapan pengembangan awal telah mencakup sekitar 7 hektare, dengan fokus pengerjaan terkini difokuskan pada klaster hunian bertajuk Cluster Cinnamon.
Mengusung konsep perumahan asri yang terintegrasi dengan fasilitas penunjang seperti kolam renang dan danau kawasan, proyek ini secara spesifik membidik segmen konsumen kelas menengah. Menurut Dimas, kebutuhan akan hunian yang nyaman dan strategis di kawasan Sawangan menunjukkan tren permintaan yang konsisten.

Saat ini, pembangunan Cluster Cinnamon yang mencakup kurang lebih 200 unit rumah di atas lahan seluas 3,5 hektare dilaporkan berjalan sesuai dengan proyeksi lini masa perusahaan.
“Alhamdulillah, bisa mencapai target sesuai yang kita rencana. Target ke depannya mengembangkan cluster-cluster setelah ini, dan juga beberapa fasilitas umum yang masih dalam pengembangan,” tutur Dimas.
Meskipun menunjukkan progres positif, Dimas secara objektif menggarisbawahi bahwa perpindahan orientasi dari industri kreatif ke sektor properti membawa tantangan fundamental, khususnya dalam aspek pengelolaan waktu dan kompleksitas permodalan.
Ia membandingkan karakteristik penyelesaian proyek di studio musik yang relatif singkat dengan siklus pembangunan infrastruktur perumahan yang memerlukan perencanaan jangka panjang serta dukungan finansial yang kuat.
“Ketika membuat musik bisa diselesaikan dalam kurun waktu satu bulan. Lain halnya dalam membuat rumah, perlu waktu yang lebih lama dan kesiapan modal yang cukup,” tuturnya.
Kendati merambah ranah bisnis yang menuntut perhatian intensif, Dimas menegaskan bahwa dunia musik tetap menjadi bagian esensial dari identitas pribadinya. Kecintaan terhadap seni suara telah tertanam sejak usia dini berkat latar belakang keluarganya bersama almarhum Tono Supartono.
Dengan kepemilikan fasilitas studio musik pribadi serta keterlibatannya yang terus berlanjut dalam memantau tren industri, Dimas memastikan bahwa aktivitas bisnis propertinya tidak menggeser kecintaannya pada karya seni.
“Kalau properti ada beberapa peluang dan keuntungan yang bisa diraih, sedangkan musik adalah passion,” katanya.
Konsistensi tersebut direalisasikan melalui peluncuran single bertajuk Jujur Saja yang dinyanyikan oleh Ira Batti pada tahun 2024 lalu. Lebih lanjut, ia juga mengonfirmasi bahwa proses produksi karya musik terbaru tengah dipersiapkan untuk segera dirilis ke ruang publik dalam waktu dekat.
“Tentu siap. Ditunggu ya, single-single berikutnya dalam waktu dekat ini akan rilis lagu berikutnya,” ucap Dimas.
Baca juga: Sesi Potret Bareng Demi Lovato, Selena Gomez Pakai Mahkota Tiara Bikinan Desainer Indonesia
Baca juga: JUNE Active Studio dan JUNI Goods Hadirkan Recreational Athletes Club di Kopi TUKU
Langkah dual-peran yang dijalankan oleh Dimas Supartono ini mencerminkan adaptabilitas tinggi seorang profesional dalam mengoptimalkan peluang bisnis modern tanpa meninggalkan akar kecintaan pada bidang kreatif yang membesarkan namanya. []




