REALLISTMEDIA.COM – Jakarta – Farid Stevy Asta, musisi sekaligus seniman rupa kelahiran Wonosari, Gunungkidul, Yogyakarta. Ia lahir dari seorang ayah yang bekerja sebagai seniman reklame dan ibu yang berprofesi sebagai perias pengantin. Farid mendapatkan kemampuan seninya seiring membantu sang ayah dalam pekerjaannya.
Farid memulai kehidupan bermusiknya saat berkuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Walau punya kesadaran penuh bahwa dirinya tidak bisa bermain alat musik, ia tetap mengajak temannya, Roby Setiawan, untuk membentuk sebuah band dengan dorongan untuk bermain di acara makrab kampusnya.
Setelah mengajukan diri menjadi seorang vokalis, terbentuklah sebuah unit band rock bernama Jenny. Karena keterbatasannya dalam bermain alat musik, Farid dipercaya untuk menjadi penulis lirik utama dalam bandnya.
“Saya yang pertama kali mengajak teman-teman untuk membuat band dengan kesadaran betul bahwa saya tidak bisa bermain alat musik,” tutur Farid dalam wawancaranya di Podcast Naik Kelas, dikutip Reallist Media pada Senin, 24 Agustus 2026.
Kemampuannya dalam menulis lirik dibuktikan melalui karya seperti Matimuda dan Menangisi Akhir Pekan pada album pertama Jenny bertajuk Manifesto. Dengan tema lirik kontemplasi yang dalam pada lagu Matimuda, ia menyampaikan pesan tentang berbahayanya dosa yang menguasai manusia.
Lagu Matimuda sendiri mulanya merupakan sebuah premis yang dibawa sang gitaris, Roby Setiawan, dengan judul awal komposisi lagu tersebut. Tema awal tersebut didapat setelah Roby mengalami sebuah kecelakaan dan hampir meninggal dunia.
Berbeda dengan Matimuda, lagu Menangisi Akhir Pekan bercerita tentang pengalaman pertama dan satu-satunya Farid bekerja sebagai karyawan. Pengalaman bekerja dengan waktu libur hanya dua hari dalam seminggu menjadi landasan ia menulis lagu ini.
Setelah Jenny menyelesaikan album pertama dan satu-satunya, dua anggota mereka yang lain akhirnya memutuskan hengkang. Namun, Farid dan Roby sebagai dua orang yang tersisa pada akhirnya memutuskan mengubah nama unit rock tersebut dan menjelma menjadi FSTVLST.

Jargon “Almost Rock, Barely Art” yang FSTVLST miliki menjadi daya tarik tersendiri. Farid mengatakan bahwa jargon tersebut cukup menggambarkan FSTVLST secara utuh hingga menjadi bentuk kemawasannya.
FSTVLST sendiri memulai debutnya dengan mengeluarkan Hits Kitsch pada tanggal 2 September 2014. Berbeda dengan karya sebelumnya, Hits Kitsch adalah album yang dibuat dengan mementingkan sebuah konsep.
“Di album pertama saya, lagunya tidak saling mengikat dan dibuat tanpa ada konsep besar, tapi di Hits Kitsch, walaupun sepertinya tidak langsung jadi punya konsep, tapi sepertinya sudah mulai berpikir tentang apa yang mau direspons,” tuturnya.
Hits Kitsch sendiri sukses dengan lagu-lagu yang ada di dalamnya, seperti Tanah Indah Untuk Para Terabaikan, Rusak dan Ditinggalkan, Menantang Rasi Bintang, juga Orang-Orang di Kerumunan. Soleh Solihun, seorang jurnalis musik, bahkan menyebut lagu Orang-Orang di Kerumunan sebagai lagu Indonesia terbaik versi dirinya.
Setelah kesuksesan Hits Kitsch, enam tahun kemudian Farid bersama FSTVLST melanjutkan karyanya dengan merilis album FSTVLST II pada 15 Juni 2026. Album ini dibuat dengan melakukan diskusi, evaluasi, dan teknik produksi dari album sebelumnya.
Farid membayangkan siapa saja yang kemungkinan memutar lagu-lagunya, mulai dari seorang ibu hingga anak kecil. Dari hal itu, akhirnya lahirlah lagu Opus.
“Opus yang sangat sederhana, nadanya berulang-ulang, lalu liriknya menjadi yang paling lugas. Opus nyatanya berhasil melihat anak saya dan anak teman-teman setim yang nyantol pertama itu Opus,” kata Farid.
Seperti sebuah siklus enam tahunan, pada 2026 ini akhirnya FSTVLST kembali mengeluarkan album ketiganya. Salah satu lagu yang menarik perhatian pendengar adalah Jefferson.
Jefferson sendiri adalah karya yang Farid tulis berdasarkan kisah kakeknya yang hilang saat pecahnya tragedi pada 1965. Mengambil judul dari Gedung Jefferson di Jogja yang saat itu menjadi lokasi penahanan pada masa tragedi tersebut, lagu ini menjadi salah satu karya Farid yang mengangkat kisah personal sekaligus sejarah.“Saya tidak sedang mengadvokasi kakek saya yang terlibat dalam isu ini, tetapi saya sedang mengadvokasi sistem peradilannya. Bahwa ketika kakek saya salah, ya adililah dan biarkan mereka menerima hukuman atas sesuatu yang dibebankan atas sistem peradilan yang baik tentunya,” tutur Farid dalam wawancara bersama Haris Franky.
Baca Juga: Profil Tupac Shakur, Legenda Hip-Hop dan Keadilan yang Tertunda
Baca Juga: Profil Bobby Suryadi: Dari Dentuman Stadium hingga Menjaga Warisan Musik Elektronik Indonesia
Selain bermusik, Farid juga aktif dalam dunia seni rupa. Ia beberapa kali melaksanakan pameran tunggal, seperti Dynamic Duos, URGNT SLNC URGNT SNDS, GDRS GTH, Being Happy Is Simple/Bahagia Itu Sederhana, dan Too Poor for Pop Culture – Too Hungry for Contemporary.
Magang
Kahfi Reihan
Jurnalistik, UIN Syarif Hidayatullah
24 Agustus 2026




