Jakarta – Otoritas Israel melarang pelaksanaan Shalat Idulfitri di kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki, dengan alasan keamanan di tengah perang dengan Iran.
Keputusan ini memicu kekecewaan mendalam di kalangan warga Palestina, yang kemudian menyerukan umat Muslim untuk tetap berkumpul di Kota Tua dan melaksanakan shalat sedekat mungkin dengan Al-Aqsa sebagai penanda berakhirnya bulan suci Ramadhan.
Menurut laporan Anadolu, sebelumnya polisi Israel dilaporkan menggunakan pentungan, granat kejut, dan gas air mata terhadap warga Palestina yang melaksanakan shalat di luar tembok Kota Tua. Tindakan tersebut dilakukan sebagai bentuk penegakan larangan akses ke Al-Aqsa selama Ramadhan, yang memicu protes warga.
Suasana Idulfitri di Yerusalem Timur tahun ini terasa muram. Kawasan Kota Tua yang biasanya dipadati warga menjelang Lebaran tampak sepi, menyerupai kota mati. Israel membatasi akses dengan alasan larangan berkumpul, sementara pedagang Palestina dilarang membuka toko mereka. Hanya apotek dan toko bahan pokok yang diizinkan beroperasi.
Sejumlah pedagang Palestina yang enggan disebutkan namanya karena khawatir atas tindakan balasan Israel mengatakan bahwa pembatasan tersebut menyebabkan tekanan ekonomi berat. Mereka kehilangan kesempatan untuk memperoleh penghasilan dari aktivitas perdagangan yang biasanya meningkat tajam menjelang Idulfitri.
Larangan ini menambah panjang daftar pembatasan yang diberlakukan Israel terhadap warga Palestina di Yerusalem Timur, khususnya terkait akses ke Masjid Al-Aqsa yang memiliki makna religius dan simbolis sangat besar bagi umat Islam.
Baca juga: Dewan Syura PKB Gelar Doa Bersama di Jabar, Serukan Perdamaian Dunia di Tengah Konflik Timur Tengah
Baca juga: Iran Mundur dari Piala Dunia 2026 Usai Konflik dengan AS
Meski demikian, seruan warga Palestina untuk tetap berkumpul di sekitar Kota Tua menunjukkan tekad mereka mempertahankan tradisi ibadah dan kebersamaan di tengah tekanan politik dan militer. []

