Jakarta – Perdebatan tentang kualitas visual film superhero kembali mencuat setelah trailer Spider-Man terbaru 2026 bertajuk Spider-Man: Brand New Day, dibandingkan dengan film The Amazing Spider-Man 2 rilisan tahun 2014 silam.
Banyak penggemar menilai bahwa film berusia 12 tahun itu justru terlihat lebih tajam dan realistis dibandingkan produksi terbaru.
Menurut laporan India Herald dan beberapa media internasional, hal ini bukan sekadar nostalgia penonton, melainkan cerminan perubahan besar dalam sistem produksi film modern.
VFX Supervisor yang Sama, Sistem yang Berbeda
Menariknya, kedua film melibatkan orang yang sama, Jerome Chen, sebagai supervisor VFX. Fakta ini menunjukkan bahwa bukan talenta yang berubah, melainkan lingkungan kerja industri film yang kini berbeda.
Pada 2014, tim VFX bekerja dengan fokus dan skala yang lebih terkendali, sementara produksi era 2020-an menghadapi tekanan skala besar, tenggat waktu ketat, dan distribusi pekerjaan ke banyak studio.
Produksi Tahun 2014: Fokus dan Detail
Film The Amazing Spider-Man 2 diproduksi oleh Sony Imageworks dengan melibatkan sekitar 50 artis VFX. Sekitar 1.000 adegan visual efek ditangani dengan teliti, didukung anggaran mencapai USD 255 juta.
Produksi menggunakan kamera film nyata, lokasi asli di New York, serta detail mendalam seperti pemindaian Times Square dengan puluhan ribu gambar. Hasilnya, visual terasa otentik, berbobot, dan memiliki kedalaman yang kuat.

Produksi Era 2020-an: Skala Besar, Kurang Kohesi
Sebaliknya, Spider-Man: No Way Home memiliki lebih dari 2.500 adegan VFX yang tersebar di belasan studio dengan ribuan artis. Skala besar ini memang memungkinkan cakupan visual lebih luas, tetapi sering kali mengurangi kohesi.
Tenggat waktu lebih ketat, anggaran per adegan lebih rendah, dan efek final kadang dikirim hanya beberapa hari sebelum rilis. Bahkan, ada kasus di mana efek diperbarui setelah film sudah tayang di bioskop.
Dampak bagi Pekerja VFX
Perubahan sistem produksi ini berdampak langsung pada pekerja VFX. Laporan dari berbagai media, termasuk Variety dan The Hollywood Reporter, menunjukkan bahwa banyak pekerja mengalami jam kerja panjang, kekurangan staf, dan gaji di bawah standar.
Burnout menjadi hal yang umum, sementara runtuhnya perusahaan besar seperti Technicolor (MPC) menandakan ketidakstabilan industri, meski permintaan konten terus meningkat.
Kuantitas vs Kualitas
Studio besar seperti Marvel kini berfokus pada jumlah konten, film, serial, dan rilis beruntun. Namun, lebih banyak konten tidak selalu berarti lebih baik.
Tim yang terbebani sering kali menghasilkan visual yang kurang maksimal, sehingga kualitas ilusi sinematis yang membuat film superhero terasa nyata menjadi korban.
Perbedaan kualitas antara The Amazing Spider-Man 2 dan Spider-Man: Brand New Day bukanlah masalah teknologi, melainkan sistem produksi film modern yang menuntut lebih banyak, lebih cepat, dan lebih murah.
Akibatnya, yang dikorbankan adalah detail visual yang membuat penonton benar-benar tenggelam dalam dunia superhero.
Baca juga: Sinopsis Film Spider-Man: Brand New Day, Jeda 4 Tahun Usai No Way Home
Baca juga: Film Spider-Man: Brand New Day Siap Tayang, Tom Holland Kembali Beraksi
Dengan kondisi ini, perdebatan tentang kualitas VFX bukan hanya soal film Spider-Man, tetapi juga cerminan tantangan besar yang dihadapi industri hiburan global. []

