Jakarta – Grup band pop punk asal Bogor, Still Virgin resmi menandai perjalanan panjang mereka di industri musik Indonesia dengan merilis album keempat bertajuk Still Virgin For Two Decades.
Album ini menjadi simbol selebrasi dua dekade eksistensi band yang tetap bertahan di tengah perubahan zaman, dinamika kehidupan, dan tantangan industri musik.
Titik Balik Usai Satu Dekade
Perilisan album penuh ini menjadi momen emosional bagi para personel Still Virgin. Setelah lebih dari satu dekade tidak merilis album studio, atmosfer rekaman terasa seperti reuni panjang yang penuh energi baru.
“Senang banget bisa ngerasain vibes recording buat album lagi,” ucap Sammy, dikutip Reallist Media pada Senin, 20 April 2026.
Hal senada disampaikan Arif, yang menekankan bagaimana proses kali ini terasa lebih matang dibanding masa awal berdiri di pertengahan 2000-an.
Jika dulu rekaman dilakukan secara spontan dengan semangat “yang penting distorsi dan langsung gas,” kini mereka lebih detail dalam memperhatikan kualitas sound, aransemen, dan produksi.
Pendewasaan musikal ini menjadi bukti bahwa Still Virgin tetap menjaga akar pop punk mereka, namun dengan pendekatan yang lebih matang dan relevan.
Single Luinika Jadi Fokus Trek
Dalam album Still Virgin For Two Decades, lagu Luinika dipilih sebagai fokus trek. Lagu ini memiliki makna personal bagi beberapa personel, karena terinspirasi dari kisah keluarga dan anak.
Satriyo bahkan menyebut Luinika sebagai salah satu lagu paling berkesan selama proses rekaman, karena kedekatan emosionalnya dengan kehidupan pribadi.
Dengan lirik jujur, melodi kuat, dan aransemen yang tetap membawa energi pop punk khas Still Virgin, single Luinika menjadi titik temu antara identitas lama band dengan kedewasaan musikal mereka saat ini.
Meski begitu, karya-karya sebelumnya tetap menjadi bagian penting perjalanan band. Lagu Semampu Kita Bersinar disebut oleh beberapa personel sebagai representasi perjuangan dan kebersamaan sejak awal berdiri.
Tantangan dan Semangat Kolektif
Proses pembuatan album ini tidak lepas dari tantangan, terutama dalam hal waktu. Sebagian besar personel kini memiliki pekerjaan dan kehidupan keluarga masing-masing, sehingga menyelaraskan jadwal rekaman menjadi hal yang sulit.
Namun justru dari keterbatasan itu lahir semangat kolektif untuk menyelesaikan album dengan maksimal.
“Still Virgin tetap Still Virgin, tapi dengan versi yang lebih dewasa,” tutur Irmaz, menegaskan bahwa meski ada pendewasaan musikal, benang merah pop punk tetap dipertahankan.

Konsep Two-Sided Release
Album Still Virgin For Two Decades dirilis dalam format two-sided release. Side A merepresentasikan refleksi dan fondasi perjalanan band, sementara Side B menggambarkan eksplorasi dan pergerakan ke depan.
Strategi ini bukan hanya gimmick, tetapi juga simbolisasi dua fase perjalanan Still Virgin, yakni nostalgia masa lalu dan langkah menuju masa depan.
Selain lagu Luinika di Side A, lagu single Temukan Aku dipilih sebagai fokus trek di Side B. Kedua lagu ini menjadi penegasan bahwa Still Virgin masih solid, masih ada, dan masih terus berkarya.
Persahabatan dan Konsistensi
Bagi Still Virgin, dua puluh tahun bukan sekadar lamanya waktu. Ini adalah tentang menjaga persahabatan, mempertahankan kepercayaan satu sama lain, serta bertahan di tengah perubahan kehidupan dan industri musik.
“Bertahan selama 20 tahun justru menjadi tantangan terbesar, namun sekaligus pencapaian yang paling berarti,” kata Ryan.
Babak Baru Bersama SOEX Studios
Kini, perjalanan baru Still Virgin diperkuat dengan bergabungnya mereka di bawah naungan SOEX Studios, yang menjadi rumah baru bagi karya-karya mereka ke depan.
Dengan energi, pengalaman, dan semangat yang tetap menyala setelah dua dekade, Still Virgin siap melangkah ke babak berikutnya dalam perjalanan musik mereka.
Baca juga: Normatif Rilis Single NPD, Nomor Pembuka Album Ketiga
Baca juga: Album IV: Anastasis Dirilis, Seringai Bakal Tampil Berlima di M Bloc
Saat ini, materi album Still Virgin For Two Decades milik Still Virgin sudah bisa didengarkan di berbagai peron pemutar musik daring. []

