Lagunya Dipakai Pendukung Donald Trump di TikTok, Ariana Grande Murka

REALLISTMEDIA.COM – Jakarta – Penyanyi solo, Ariana Grande sekali lagi mengecam aksi pendukung Presiden Amerika Serikat, Donald Trump setelah lagunya digunakan sebagai latar sebuah video yang membahas Donald Trump.

Lagu sang penyanyi, we can’t be friends (wait for your love) dari album Eternal Sunshine yang dirilis pada 2024, digunakan oleh akun TikTok Team Trump.

Dalam video tersebut terlihat klip Donald Trump sedang berjalan menuju podium dengan teks berupa penggalan lirik dari lagu tersebut, “Aku dan kebenaranku tetap diam.”

Setelahnya, video tersebut menampilkan teks, “Pria tidak bisa memiliki bayi dan juga tidak seharusnya bersaing di olahraga wanita.”

Team Trump kemudian memberikan keterangan pada unggahan tersebut dengan tulisan, “Hal ini seharusnya tidak menjadi kontroversi,” disertai tagar #trump, #arianagrande, dan #maga.

Pada kolom komentar di postingan video TikTok tersebut, Ariana Grande mengungkapkan kritiknya. Ia meminta agar musiknya tidak digunakan sekaligus mengatakan bahwa kebenaran yang dimaksud akun tersebut adalah salah.

“Jangan pernah gunakan musik saya lagi. Selain itu, kebenaran kalian itu salah,” tulisnya.

Kejadian ini bukan pertama kalinya Grande berselisih dengan pemerintahan Trump terkait penggunaan musiknya. Sebelumnya, pada Juni 2026, Gedung Putih juga menggunakan lagu Bye milik Grande dalam sebuah video TikTok yang menampilkan operasi penangkapan oleh Immigration and Customs Enforcement (ICE).

Saat itu, Grande mengecam penggunaan musiknya dan menyebut video tersebut sebagai sesuatu yang “barbaric, inhumane, heinous nonsense”. Lagu tersebut kemudian dihapus dari video.

Saat ini, lagu Ariana Grande sendiri juga sudah dihapus sebagai latar belakang video tersebut.

Sebelumnya, Grande memilih Kamala Harris pada pemilu tahun 2024 lalu. Setelah kemenangan Trump, Ariana menulis sebuah pernyataan mengenai kekecewaannya terhadap kemenangan sang presiden tersebut.

“Menggenggam tangan setiap orang yang merasakan begitu beratnya hasil hari ini,” tulis Grande pada Instagram Story-nya.

Grande bukanlah satu-satunya artis yang bermasalah dalam kasus seperti ini. Sebelumnya, pada awal Agustus 2026, akun Team Trump juga menggunakan lagu Taylor Swift sebagai musik latar. Dalam video tersebut, mereka menulis candaan bahwa sang penyanyi akan sangat senang jika lagunya digunakan oleh mereka. Namun, tak lama setelah itu, lagu Taylor dikabarkan dihapus dari postingan tersebut.

Kesha juga mengecam penggunaan lagu Blow dalam sebuah video militer, sementara Boards of Canada dan Warp Records mengkritik penggunaan lagu Deep Time tanpa izin dalam sebuah unggahan yang menampilkan kapal patroli perbatasan dan pusat-pusat penahanan.

Sabrina Carpenter sebelumnya menyebut video ICE yang menggunakan lagunya, Juno, sebagai sesuatu yang “jahat dan menjijikkan”. Sementara itu, Olivia Rodrigo menuduh pemerintahan Trump menggunakan musiknya untuk mempromosikan “propaganda rasis dan penuh kebencian”.

Baca Juga: Kanye West Jadi Bintang AS Pertama yang Konser Di Rusia Usai Konflik Ukraina

Baca Juga: Ardhito Pramono Gugat Sony Music Indonesia Terkait Royalti

Sejumlah artis dan pemegang hak cipta lainnya juga pernah memprotes penggunaan karya mereka oleh Trump, termasuk The Rolling Stones, Adele, Neil Young, Jack White, ABBA, Céline Dion, Foo Fighters, keluarga Isaac Hayes, dan Eddy Grant.

Magang
Kahfi Reihan
Jurnalistik, UIN Syarif Hidayatullah
22 Agustus 2026

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *