REALLISTMEDIA.COM – Jakarta – Di era awal kemerdekaan Indonesia, terdapat satu genre musik yang menyatukan berbagai kelompok masyarakat di negara ini. Dari Sabang sampai Merauke, dari rumah-rumah rakyat biasa hingga istana kepresidenan, semua bersatu menunggu musik Orkes Melayu diputar di radio.
Sebagai simbol kebersatuan dan keberagaman negara ini, kita akan telusuri sejarah dan perkembangan salah satu musik asli Indonesia.
Orkes Melayu
Di akhir abad ke-19, sebuah teater Melayu dari Malaya datang ke tanah Jawa dengan membawa pertunjukan bernama bangsawan, opera, dan stambul. Mereka membawa berbagai budaya dan instrumen yang sangat multikultural, dengan violin dari Eropa, gendang dari Melayu, melodi dari India dan Timur Tengah, hingga melodi dari Barat yang bersatu pada pertunjukan ini.
Kota Medan sendiri menjadi salah satu tempat paling berpengaruh dalam musik ini. Ini terjadi karena Medan merupakan bekas wilayah Kesultanan Deli yang sudah berkembang sejak awal abad ke-17.
Lili Suheri, direktur RRI Medan, Rubiah, seorang penyanyi panggung dan latar film, juga Ema Gangga, pemain biola sekaligus penyanyi, menjadi tiga pionir penting bagi musik Orkes Melayu.
Pelarangan Musik Barat Era Presiden Soekarno
Setelah kemerdekaan, Presiden Soekarno menutup segala bentuk kebudayaan Barat ke Indonesia. Sebagai gantinya, ia membuka lebar film dan musik dari tanah India. Hal ini menyebabkan akulturasi budaya yang terjadi pada banyak penyanyi Orkes Melayu di Jakarta yang mulai meniru gaya vokal khas India.
Elly Khadam menjadi tokoh penting pada era ini. Ia adalah orang pertama yang mengembangkan Orkes Melayu dengan sentuhan irama khas India dan mulai menggunakan seruling pada karyanya lewat lagu bertajuk Boneka Cantik dari India.
Keterbukaan Musik Barat di Indonesia
Setelah Soeharto menjabat menjadi presiden, kebudayaan dari Barat tak lagi dibatasi di Indonesia. Hal ini menyebabkan munculnya kebudayaan baru akibat pembaruan tersebut.
Salah satunya adalah Rhoma Irama dengan kelompok Soneta-nya. Mereka merombak syair dan instrumen dangdut dengan gaya rock serta pesan-pesan optimis seperti dakwah. Hal ini terjadi karena Rhoma Irama sendiri adalah penggemar lagu rock seperti Hyperbolic dan karya Tom Jones.
Pada era ini juga terjadi ketegangan dan rivalitas antara penggemar musik rock dan dangdut. Ini bermula pada sebuah wawancara majalah Aktuil ketika vokalis sekaligus gitaris band rock Giant Step, Benny Soebardja, mengolok-olok musik dangdut dengan sebutan “Musik Tahi Anjing”.
Rhoma Irama selaku Raja Dangdut juga tak tinggal diam dengan mengeluarkan pernyataan bahwa musik rock adalah “Terompet Setan”.
Kala itu, musik rock dicap sebagai musik kalangan atas, sedangkan musik dangdut sebaliknya. Hal ini membuat sebagian komunitas dangdut merasa keberatan saat Rhoma Irama memasukkan unsur distorsi gitar pada lagu-lagu Soneta Group seperti pada album Begadang.
Lahirnya Funky Kota
Berkembangnya teknologi musik juga membuat musik dangdut ikut membuka kebaharuannya. Dengan maraknya alat dan genre musik elektronik, dangdut merespons dengan lahirnya genre Funky Kota atau biasa disingkat Funkot.
Barakatak adalah kelompok musik yang menjadi pionir peleburan ini dan membuat popularitas Funkot naik di kalangan masyarakat.
Kepopuleran Funkot semakin melejit ketika TikTok menginvasi sehingga lagu-lagunya banyak dipakai pengguna agar bisa populer di FYP (For You Page). Salah satunya, pada 2020, artis Hollywood Terry Crews dan Howie Mandel di TikTok menggunakan lagu Bagaikan Langit milik Melly Goeslaw yang telah di-remix.
Terkadang, Funkot memiliki kontroversi karena mengambil sampel musik lain. Di TikTok, misalnya, musisi elektronik Mardial berhasil membongkar musik lagu populer TikTok berjudul Aisyah Jatuh Cinta pada Jamila yang ternyata mengambil sampel Wrecking Ball karya Miley Cyrus.

Hipdut Sebagai Wajah Baru dari Dangdut
Salah satu musik yang kini tengah viral dipadukan adalah genre Hip-Hop Dangdut atau yang lebih dikenal dengan nama Hipdut. Hipdut sendiri awalnya dipopulerkan oleh NDX A.K.A lewat lagu Sayang yang memadukan musik elektronik, campursari, dengan bahasa Jawa Tengah.
Hipdut sendiri menggapai popularitasnya lewat trio Tenxi, Naykilla, dan Jemsii lewat hit-nya yang berjudul Garam & Madu yang viral beberapa waktu lalu. Melodi dangdut dengan beat modern dan elemen rap serta elektroniknya langsung diminati oleh anak-anak muda. Bahkan, lagu ini meledak hingga 152 juta views di YouTube dan 100 juta stream di platform Spotify.
Setelah kesuksesan Garam & Madu, trio Tenxi, Naykilla, dan Jemsii terus menambah rilisan karya-karyanya yang juga menggapai kesuksesan dan minat di kalangan anak muda. Lewat lagu Kasih Aba-Aba, Bintang Lima, dan My Mine Gueh, mereka sukses menjadikan Hipdut sebagai salah satu genre musik yang bisa bersaing di era saat ini.
Baca Juga: Penyanyi Dangdut Cici Faramida Rilis Ulang Single Jangan Tunggu Lama-Lama
Baca Juga: Serial Romansa Komedi dengan Balutan HipDut, Garam Muda Tayang di Viu
Selain itu, mereka juga mendirikan AntiNRML yang merupakan sebuah label musik dan kolektif kreatif yang menaungi berbagai musisi bergenre Hipdut, dengan gaya visual dan konten yang nyentrik.
Magang
Kahfi Reihan
Jurnalistik, UIN Syarif Hidayatullah
02 September 2026




