The Brandals Angkat Tema Sosial Politik di Album Oposisi

REALLISTMEDIA.COM – Jakarta – Unit rock independen The Brandals resmi merilis album ke-6 bertajuk Oposisi. Album ini menjadi penanda perjalanan panjang band yang telah berdiri sejak 2001 ini, sekaligus menegaskan konsistensi mereka sebagai salah satu band rock paling berpengaruh di lanskap musik independen Indonesia.

Sejak September 2025, The Brandals telah merilis sejumlah single seperti Jari Kasar, Di Pinggir Marjin, Langit Biru, dan Ke Timur. Menjelang peluncuran album, mereka juga merilis single 1948 pada 15 September 2026.

Lagu ini mengangkat tema tragedi Nakba, peristiwa di mana lebih dari 750.000 rakyat Palestina terusir dari tanah mereka akibat ekspansi Zionis Israel. Lirik single 1948 tidak hanya menyoroti tragedi kemanusiaan tersebut, tetapi juga menyulut semangat pembebasan.

Album Oposisi dieksekusi dengan aransemen post-punk hasil kolaborasi bersama duo produser Jonathan Mono dan Jonathan Pardede. Keduanya dikenal dengan latar belakang musik elektronik, sehingga membawa palet baru ke dalam eksplorasi musik The Brandals.

Proses rekaman yang dimulai sejak September 2024 berlangsung produktif, penuh tarik ulur kreatif antara band dan produser. Hasilnya adalah 10 lagu yang berani melawan ekspektasi publik tentang bagaimana The Brandals seharusnya terdengar.

Inspirasi album ini banyak dipengaruhi oleh musik dekade 80–90an, ketika rock, hip-hop, dan elektronik mulai saling berpenetrasi.

Nama-nama seperti Chic & Nile Rogers, INXS, Tears for Fears, Blondie, The Clash, Bauhaus, hingga The Stone Roses dan Happy Mondays menjadi referensi penting dalam proses kreatif album ini.

Formasi The Brandals sempat berubah setelah kepergian gitaris Tony Dwi Setiaji (2021) dan drummer Firman Zaenudin (2023). Namun, kehadiran drummer muda Ghani Noorputrawan sejak awal 2025 memberikan energi baru yang segar. Gebukan solidnya menjadi suntikan vital dalam rekaman album Oposisi.

Secara tematik, judul Oposisi dipilih sebagai pernyataan sikap yang jelas terhadap kondisi sosial-politik Indonesia.

Band menyoroti absennya komponen oposisi dalam pemerintahan, sehingga album ini diharapkan menjadi corong suara mayoritas warga sipil yang ingin menyampaikan protes atas kebijakan negara.

“Kami ingin album ini menjadi representasi kelas pekerja, tempat kami berpijak, yang setiap hari berjuang di tengah kerasnya kota urban,” ucap Eka Annash sang vokalis, dikutip Reallist Media pada Rabu, 30 September 2026 .

Pesan tersebut tercermin dalam lagu Di Pinggir Marjin yang menjadi balada pekerja urban, nomor Jari Kasar hasil kolaborasi dengan duo punk elektro Sukatani dari Purbalingga, serta Ke Timur yang menampilkan rap lirik Eka Annash tentang kondisi dalam negeri.

Lagu Langit Biru menghadirkan narasi reflektif tentang kehancuran alam, sementara Midnight, Dharmawangsa Parking Lot menyuguhkan momen introspektif.

Lewat perilisan album Oposisi, The Brandals semakin mengukuhkan diri sebagai band rock independen garda depan yang tetap relevan meski telah berkarier selama 25 tahun.

Identitas mereka sebagai band pembawa pesan sosial dan politik tetap dijaga, bertransformasi dari band urakan pemberontak menjadi oposisi sipil yang dewasa, berani, dan tajam.

Baca juga: Unit Musik, Dialog Dini Hari Perkenalkan Album Rumah Bisa Lahir Sekali Lagi

Baca juga: Unit Hardcore Avhath Buka Album Perdana Lewat Single amassed

Saat ini, seluruh materi dalam album Oposisi milik The Brandals sudah bisa didengarkan di berbagai platform pemutar musik digital. []

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *