Tur Batal di Banyak Titik, Aldy Amis Keluhkan Birokrasi Perizinan Konser ke Polisi

REALLISTMEDIA.COM – Jakarta – Musisi folk Aldy Amis resmi menutup perjalanan tur Mimbar Jalanan dengan sebuah pertunjukan intim di Coffewar, Pondok Labu, Jakarta Selatan. Dua rekan seperjuangan di kancah musik, yakni Mawih dan Elegi, digandeng sebagai musisi pembuka.

Berbicara dalam interview eksklusif bersama Reallist Media, Aldy Amis mengatakan bahwa tur Mimbar Jalanan semula direncanakan menyambangi 33 kota di Pulau Jawa dan Kalimantan. Namun pada akhirnya hanya terlaksana di 24 kota.

Sejumlah titik harus dibatalkan karena kendala perizinan dari pihak kepolisian, yang menurut Amis semakin rumit dan mahal. Dalam penutupan tur, ia menyampaikan refleksi panjang mengenai perjalanan ini.

“Cuma terjadi di 24 kota karena masalah perizinan kepada Bapak Polisi yang ternyata semakin lama semakin rumit dan mahal. Ada yang 20 juta, ada yang 30 juta mintanya (pihak) polisi,” tutur Amis, dikutip Reallist Media pada Kamis, 27 Agustus 2026.

Aldy menambahkan bahwa biaya izin yang diminta di beberapa kota bisa mencapai puluhan juta rupiah, jumlah yang tidak sebanding dengan skala pertunjukan musik folk yang intimate.

“Dengan kondisi musisi folk yang notabene sangat intimate akan jumlah penontonnya. Jadi saya rasa 30 juta atau 20 juta lebih bermanfaat untuk hal lain daripada untuk bayar polisi. Maka di Jakarta pun dibikin secara intimate karena kalau lebih dari 300 orang harus izin sampai Polda,” tuturnya.

Penyanyi folk, Aldy Amis. (Foto: Istimewa)
Penyanyi folk, Aldy Amis. (Foto: Istimewa)

Perjalanan tur Mimbar Jalanan milik Aldy Amis menjadi bukti nyata perjuangan musisi independen menghadapi birokrasi perizinan yang memberatkan. Meski begitu, Amis tetap bersyukur atas dukungan penonton di 24 kota yang berhasil ia datangi.

Rangkaian tur ini dihelat Amis demi mempromosikan album terbaru bertajuk Mimbar Jalanan miliknya. Berisi 8 trek, lagu ciptaan Mike Marjinal berjudul Hewan Perwakilan Rakyat, serta lagu yang diproduseri Iga Massardi bertajuk Local Wisdumb tersemat di album ini.

Amis bilang, album ini lahir dari realita sosial yang ia saksikan sehari-hari. Ia mengaku tidak satupun materi di dalamnya yang ia tulis. Ia hanya merangkai peristiwa dan dinamika di sekelilingnya menjadi karya musik.

“Album ‘Mimbar Jalanan’ berisi delapan lagu. Lagu yang bukan saya yang menulis sejujurnya, karena saya cuma melihat realita yang ada di Indonesia,” kata Amis.

“Kebetulan profesi saya adalah seorang seniman maka dijadikan sebuah lagu. Kebetulan liriknya diambil dari seluruh cerita masyarakat Indonesia,” tuturnya.

Pertunjukan penutup di Coffewar berlangsung hangat, dengan format sederhana yang justru memperkuat kedekatan antara musisi dan penonton. Meski tidak semua kota tercapai, tur ini tetap menjadi salah satu cerita terbaik dalam perjalanan Aldy Amis.

Baca juga: Cerita di Balik Konser Intim Rex Orange County di Rumah Fans Asal Bekasi

Baca juga: Chappell Roan Jadi Bintang Tamu Kejutan di Konser Noah Kahan

Ia berharap pengalaman ini bisa menjadi pengingat bahwa musik jalanan dan musik independen memiliki tempat penting di masyarakat, meski harus berhadapan dengan rintangan birokrasi. []

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *