Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengalihkan impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) dari kawasan Timur Tengah ke Amerika Serikat dan Australia untuk menjaga ketahanan pasokan energi nasional.
Bahlil menegaskan pemerintah mengambil langkah ini untuk memastikan pasokan LPG tetap aman di tengah dinamika geopolitik global.
“LPG sampai dengan sekarang insyaallah tetap aman. Karena yang kita ambil dari Timur Tengah itu sudah kita alihkan ke negara lain, seperti Amerika, Australia, dan beberapa negara lain,” ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin.
Selain LPG, pemerintah juga mengalihkan sumber impor minyak mentah (crude oil) dari Timur Tengah ke sejumlah negara Afrika seperti Angola dan Nigeria.
“Sekarang ini stok energi kita masih dalam taraf stok minimum nasional. Jadi insyaallah aman,” kata Bahlil.
Pemerintah menjalankan strategi diversifikasi impor energi ini untuk menjaga stabilitas pasokan dalam negeri. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan kontrak jangka panjang dengan sejumlah negara mitra agar pasokan LPG tetap terjamin.
Data pemerintah menunjukkan sekitar 70–75 persen impor LPG Indonesia berasal dari Amerika Serikat, sekitar 20 persen dari Timur Tengah, dan sisanya dari negara lain termasuk Australia.
Di sisi lain, pemerintah memastikan pasokan solar nasional tetap aman karena produksi dalam negeri sudah mampu memenuhi kebutuhan.
Untuk minyak mentah, pemerintah sebelumnya mengandalkan sekitar 20 persen impor dari Timur Tengah. Kini, pemerintah memperluas sumber pasokan melalui kerja sama jangka panjang dengan negara lain guna memperkuat ketahanan energi nasional.[]

