Jakarta – Rumah produksi Disney kembali menghadirkan kisah klasik yang begitu dicintai penonton dengan format baru. Setelah sukses dengan versi animasi pada 2016, kini film Moana hadir dalam balutan live-action yang resmi tayang di bioskop mulai 8 Juli 2026.
Film ini disutradarai oleh Thomas Kail dan dibintangi oleh Catherine Lagaʻaia sebagai Moana, Dwayne Johnson sebagai Maui, John Tui sebagai Kepala Suku Tui, Frankie Adams sebagai Sina, serta Rena Owen sebagai nenek Tala.
Kisah yang diangkat dalam live-action Moana tidak jauh berbeda dengan versi animasinya. Cerita tetap mengikuti perjalanan seorang gadis pemberani dari Pulau Motunui yang berusaha mengembalikan kesejahteraan desanya.
Moana, putri kepala suku, dipersiapkan untuk meneruskan kepemimpinan keluarga. Namun, ia memiliki hasrat besar untuk berpetualang ke lautan, meski terhalang aturan desa yang melarang penduduk berlayar melewati batas karang.
Dukungan datang dari sang nenek, Tala, yang memahami ketertarikan cucunya terhadap lautan dan meyakinkan bahwa lautan telah memilih Moana untuk menjalankan misi besar.
Ketika ancaman mulai melanda pulau, Moana terdorong untuk berlayar melampaui terumbu karang demi menyelamatkan desanya. Ia harus menemukan Maui, manusia setengah dewa yang mencuri jantung Te Fiti, dewi kepulauan.
Dengan ditemani ayam kocak bernama Heihei, Moana berlayar dengan perahu sederhana, menghadapi berbagai rintangan di lautan, hingga akhirnya bertemu Maui.
Perjalanan mereka penuh tantangan, namun Moana bertekad mengembalikan jantung Te Fiti ke tempat asalnya demi menyelamatkan pulau-pulau dari kehancuran.
Disney memilih untuk mempertahankan formula yang sudah dikenal penonton. Alur cerita film live-action Moana hampir identik dengan versi animasi garapan John Musker dan Ron Clements. Banyak adegan dibuat serupa, mulai dari pengambilan gambar hingga dialog.
Keputusan ini memang membuat film terasa minim kejutan bagi penonton lama, tetapi justru menjadi nilai positif karena menghadirkan nostalgia yang kuat.
Visual live-action menjadi daya tarik utama. Hamparan lautan biru yang luas, lanskap tropis, desain kostum, musik tradisional, hingga elemen budaya Pulau Motunui digambarkan penuh warna.
Efek visual seperti tato hidup di dada Maui dan kemampuannya berubah menjadi berbagai hewan menciptakan dunia yang berada di antara realitas live-action dan fantasi animasi.

Catherine Lagaʻaia tampil karismatik sebagai Moana. Suaranya terdengar jernih, ekspresinya berhasil menghidupkan karakter saat bernyanyi, dan energinya membawa penonton larut dalam imajinasi seorang gadis dari pulau kecil yang bermimpi menjelajahi dunia.
Dwayne Johnson kembali memerankan Maui dengan rambut panjang dan sentuhan humor khasnya. Meski beberapa adegan terasa kaku, chemistry antara Johnson dan Lagaʻaia cukup kuat, terutama ketika menyanyikan lagu-lagu karya orisinal Lin-Manuel Miranda, Opetaia Foa’i, dan Mark Mancina.
Lagu How Far I’ll Go kembali menjadi simbol tekad Moana untuk menjadi penunjuk jalan sekaligus pemimpin.
Selain itu, Disney menghadirkan lagu baru berjudul Along The Way yang diciptakan Lin-Manuel Miranda dan dibawakan oleh Auliʻi Cravalho, Catherine Lagaʻaia, serta Dwayne Johnson. Kehadiran lagu baru ini memberi sentuhan segar di tengah cerita yang familiar.
Menonton live-action Moana tanpa lebih dulu menyaksikan versi animasi terasa seperti menikmati dongeng musikal dengan visual indah, humor hangat, dan kisah petualangan penuh pesan.
Sementara bagi penonton yang sudah akrab dengan animasinya, film ini mungkin terasa minim kejutan. Namun, mengikuti cerita asli justru menjadi kekuatan yang membangkitkan nostalgia.
Film Disney live-action Moana (2026) pada akhirnya menawarkan pengalaman menonton yang memanjakan mata sekaligus hati. Ia menghadirkan kembali kisah klasik dengan nuansa baru, memperkuat pesan tentang keberanian, tekad, dan cinta terhadap alam.
Baca juga: Film Foufo Hadirkan Komedi Sci-Fi Berbudaya Madura Pertama di Indonesia
Baca juga: Buka Peluncuran FFI 2026, Fadli Zon Sebut Film Menghidupkan Memori Kolektif Bangsa
Film ini menjadi bukti bahwa remake tidak selalu harus berbeda, tetapi bisa tetap setia pada cerita asli sambil menghadirkan pengalaman visual yang lebih nyata. []
