REALLISTMEDIA.COM – Jakarta – Dinamika kehidupan pekerja di kawasan perkotaan besar kembali diangkat ke dalam ranah seni musik melalui perilisan karya terbaru dari grup band El Popo.
Melalui single perdana yang diberi judul Ngantuk, band ini menyoroti berbagai realitas keresahan kaum urban, mulai dari beban target pekerjaan yang tinggi hingga dinamika kompensasi finansial yang kerap tidak sejalan.
Single tersebut dirilis secara resmi bersamaan dengan peluncuran album mini (extended play) perdana mereka yang bertajuk Dumbo Fantastico. Materi lagu ini berangkat dari pengalaman empiris serta pengamatan keseharian para personel El Popo yang sebagian besar juga beraktivitas sebagai pekerja kantoran.
Realitas Dunia Kerja
Lagu Ngantuk ditulis oleh vokalis Vito Sanders, dengan proses aransemen musikal yang dikembangkan bersama gitaris Dipto. Penggalan lirik awal lagu ini merefleksikan tekanan profesional yang kerap dihadapi para pekerja.
Vito menjelaskan bahwa inspirasi penulisan lirik tersebut bersumber langsung dari narasi sosial di lingkungan sekitarnya.
“Gue cuma coba nangkep cerita teman-teman aja. Misalnya, bos yang kalau kasih target gila-gilaan, tapi giliran diminta naik gaji malah ogah-ogahan,” tutur Vito Sanders, dikutip Reallist Media pada Sabtu, 3 Oktober 2026.
“Atau teman kerja yang santai banget pas WFH, sementara kerjaan dan project-nya malah numpuk ke kita,” ujarnya.
Memasuki usia 30 tahun, Vito memilih pendekatan lirik yang realistis dan dekat dengan keseharian hidup dewasa, yang menurutnya lebih merepresentasikan kecemasan faktual saat ini.
“Gue sekarang umur 30 tahun. Mau bikin lagu cinta-cintaan udah bingung. Bikin lagu galau juga kayaknya sekarang gue lebih sedih kalau putus kontrak kerja daripada putus cinta,” ucapnya.
Eksplorasi Musik Era Awal 2000-an
Dari aspek aransemen, El Popo mengadopsi karakteristik musik ska punk dan pop punk yang populer pada era awal tahun 2000-an, dengan merujuk pada referensi musikal seperti Jun Fun Gung Foo, Less Than Jake, hingga Reel Big Fish.
Dipto menyampaikan bahwa pemilihan genre tersebut dilandasi oleh latar belakang generasi yang tumbuh bersama tayangan musik televisi pada masa itu.
“Untungnya kita semua tumbuh di era yang sama, ketika MTV jadi referensi utama. Jadi musik dari Blink-182, Sum 41, sampai band yang punya elemen ska seperti Less Than Jake dan Rancid itu sudah sangat familiar buat kita,” kata Dipto.
EP Dumbo Fantastico Jadi Tonggak Perjalanan Kreatif
EP Dumbo Fantastico memuat total lima lagu yang merangkum berbagai elemen subgenre punk, mulai dari hardcore punk, pop punk, punk rock, hingga ska punk. Bassist El Popo, Iqbal Firdaus, menuturkan bahwa penggabungan berbagai subgenre tersebut menjadi identitas tersendiri bagi kelompok mereka.
“Band pop punk sekarang sudah banyak yang keren-keren. Kalau kita ikut jadi band pop punk juga, kayaknya kita kurang ganteng. Jadi, sekalian aja kita campur berbagai subgenre punk. Yang penting semuanya tetap terasa seperti musik yang kita dengarkan waktu kecil,” ujar Iqbal.
Bermula dari proyek kamar tidur (bedroom project) yang diinisiasi oleh Vito Sanders pada akhir tahun 2024, El Popo yang kemudian diperkuat oleh Dipto, Iqbal Firdaus, Ilham Fajri, dan Ge Wibowo resmi bertransformasi menjadi sebuah entitas band penuh pada tahun 2026.
Melalui perilisan EP perdana ini, El Popo berharap karya-karya mereka dapat diterima secara luas oleh para penikmat musik tanah air.
Baca juga: Grup Band VODA Rilis Single Perdana Bertajuk Dunia Kita
Baca juga: Unit Rock Mudgarden Perkenalkan Diri Lewat Single Debut, Berag
Saat ini, single Ngantuk dan seluruh materi di EP Dumbo Fantastico milik El Popo sudah bisa didengarkan di berbagai peron pemutar musik daring.[]




