REALLISTMEDIA.COM – Grup band alternatif asal Indonesia, WUSS, resmi merilis album penuh perdana mereka bertajuk SUZAN. Peluncuran karya ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan musikal mereka.
Sejatinya, WUSS secara perlahan sudah membuka potongan cerita melalui tiga single, yakni Born in February, Three Years of Wonder and Pain in a Boundless March, dan May? yang dilepas lebih dulu.
Ketiga lagu tersebut bukanlah karya yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari narasi panjang yang akhirnya bermuara pada album penuh, SUZAN.
Lebih dari sekadar kumpulan dua belas lagu, SUZAN dibangun layaknya sebuah kalender yang bergerak perlahan. Album ini dimulai dengan January Note (Unsent) dan ditutup oleh December, at Last.
Setiap lagu merepresentasikan satu bulan dalam satu tahun, membawa pendengar pada perjalanan emosional tentang kehilangan, harapan, nostalgia, kegelisahan, cinta, hingga penerimaan.
Meski tiap lagu bisa dinikmati secara terpisah, makna utuhnya baru benar-benar terasa ketika seluruh perjalanan didengarkan dari awal hingga akhir.
Dalam proses kreatifnya, WUSS memperluas eksplorasi musikal tanpa meninggalkan identitas yang telah mereka bangun sejak awal. Lapisan paduan suara, gitar yang intim, piano yang sunyi, serta dinamika yang berkembang perlahan menjadi bahasa utama dalam menyampaikan emosi.
Album ini juga menghadirkan kolaborasi bersama Ami Voix Chorale, Yogha Prasiddhamukti dari Skandal, Christabel Annora, dan Eltria Raffi dari Dazzle. Kehadiran mereka memberi warna baru tanpa mengubah arah emosional album ini.
Identitas album semakin lengkap dengan artwork yang dikerjakan oleh Farhan Endy dari Conbini, seniman visual asal Malang. Karya visualnya tidak hanya menjadi sampul album, tetapi juga menerjemahkan kesunyian, nostalgia, dan ruang-ruang emosional yang hidup di sepanjang dua belas lagu menjadi sebuah pengalaman visual yang utuh.
Sebagai kelanjutan dari perilisan album, WUSS juga akan merilis official music video untuk January Note (Unsent) feat. Ami Voix Chorale, yang disutradarai oleh Jamal dari RCA Studio.
Lagu pembuka ini menjadi gerbang menuju keseluruhan narasi album SUZAN. Layaknya halaman pertama sebuah buku, video musik tersebut menjadi pintu masuk menuju dua belas bab yang membentuk perjalanan emosional sepanjang satu tahun.
Salah satu personel WUSS, Sabiella Maris mengatakan bahwa judul SUZAN sendiri sengaja dibiarkan terbuka untuk dimaknai. Ia bukan sekadar nama seseorang, melainkan ruang bagi setiap pendengar untuk menemukan sosok, kenangan, atau perasaan yang pernah singgah dalam hidup mereka.
“Kami tidak pernah membayangkan ‘SUZAN’ sebagai dua belas lagu yang berdiri sendiri,” tutur Sabiella Maris, dikutip Reallist Media pada Minggu, 30 Agustus 2026.
“Kami ingin album ini terasa seperti membuka sebuah buku harian, lalu menyadari bahwa setiap bulan diam-diam sedang menceritakan kisah yang sama,” tuturnya.
Bagi WUSS, SUZAN bukan album yang berusaha memberikan jawaban. Album ini adalah dokumentasi tentang bagaimana waktu membentuk manusia, tentang bagaimana satu tahun dapat mengubah seseorang secara perlahan tanpa pernah benar-benar disadari.
Setiap cerita selalu memiliki sebuah awal, dan bagi WUSS, awal itu adalah January Note (Unsent). Selebihnya hanyalah satu tahun yang perlahan belajar untuk terungkap.
Dengan konsep narasi yang unik, eksplorasi musikal yang mendalam, serta kolaborasi lintas musisi dan seniman visual, SUZAN menjadi karya yang menegaskan posisi WUSS sebagai salah satu band alternatif Indonesia yang berani menghadirkan sesuatu yang berbeda.
Baca juga: Jennie BLACKPINK Lepas Album Fallen Angel dalam Dua Versi
Baca juga: Rilis Album Melankolia Radikal, Dongker Pakai Foto Jokowi Sebagai Visual
Album ini kini sudah tersedia di seluruh platform musik digital, siap menemani pendengar dalam perjalanan emosional sepanjang tahun. []




