REALLISTMEDIA.COM – Jakarta – Dunia musik internasional tengah diguncang polemik besar setelah tur global Ed Sheeran bertajuk Loop Tour kehilangan seluruh artis pembuka dan band pengiringnya. Kisruh ini bermula dari pencoretan rapper Macklemore yang sebelumnya dijadwalkan tampil sebagai pembuka konser.
Kronologi kisruh ini dimulai pada 5 September 2026 di MetLife Stadium, New Jersey, ketika Macklemore tampil sebagai pembuka dan menyerukan dukungan untuk Palestina. Ia membawakan lagu Hind’s Hall, yang dikenal sebagai simbol protes terhadap genosida di Gaza.
Setelah penampilan tersebut, sejumlah pemilik stadion, termasuk Robert Kraft selaku pemilik Gillette Stadium, menekan promotor agar Macklemore dicoret. Alasan yang dikemukakan adalah penggunaan simbol yang dianggap antisemitik, meski Macklemore menegaskan bahwa pesannya murni solidaritas kemanusiaan.
“Saya tidak membawa kebencian, saya membawa pesan kemanusiaan. Lagu ini adalah bentuk solidaritas terhadap rakyat Gaza yang mengalami penderitaan,” ujar Macklemore dalam pernyataannya, dikutip Reallist Media pada Kamis, 17 September 2026.
Tidak lama setelahnya, Ed Sheeran kemudian mengeluarkan pernyataan bahwa pencoretan Macklemore bukan keputusannya. Ia menegaskan bahwa dirinya memilih bersikap netral dan tidak ingin konser dijadikan arena politik.
“Saya ingin konser ini tetap menjadi ruang musik, bukan arena politik. Keputusan mengenai siapa yang tampil bukan berada di tangan saya,” kata Ed Sheeran.
Namun, sikap netral ini dianggap problematis oleh sejumlah musisi lain. Grup Massive Attack, misalnya, menyatakan bahwa “tidak ada posisi netral di tengah pembantaian”. Kritik ini memperlihatkan bahwa publik dan komunitas musik menuntut sikap lebih tegas dari artis sebesar Ed Sheeran.

Pelemik kian membesar usai solidaritas terhadap Macklemore membuat seluruh artis pendukung Ed Sheeran memutuskan mundur. Empat nama besar yang sebelumnya dijadwalkan tampil kini resmi keluar dari tur.
Finneas dari Amerika Serikat menolak seniman dibungkam dan menyatakan dukungan pada Palestina. Menuruntnya, tidak ada seniman yang boleh dibungkam karena menyuarakan solidaritas.
“Saya tidak bisa berdiri di panggung yang membatasi kebebasan berekspresi,” kata Finneas.
Aaron Rowe dari Irlandia mengaitkan sikapnya dengan sejarah penindasan di Irlandia dan menolak genosida.
“Sebagai orang Irlandia, saya tahu bagaimana rasanya hidup di bawah penindasan. Saya tidak bisa diam melihat rakyat Palestina mengalami hal serupa,” ujarnya.
Lukas Graham dari Denmark menolak dominasi kekuatan finansial dalam membatasi ekspresi seniman.
“Musik adalah kebebasan, bukan alat komersial untuk membungkam suara. Saya tidak bisa ikut tur ini jika kebebasan seniman dibatasi,” kata Lukas Graham.
Sementara Beoga, band pengiring Ed Sheeran asal Irlandia, mundur karena menolak pembungkaman Macklemore.
“Kami tidak bisa terus bermain jika rekan kami dibungkam. Solidaritas adalah hal yang lebih penting daripada panggung,” tulis Beoga dalam pernyataan resmi.
Dengan mundurnya seluruh artis pendukung, tur Ed Sheeran kini berjalan tanpa band pengiring maupun artis pembuka. Hal ini tentu berdampak besar terhadap jalannya tur. Kehilangan daya tarik tambahan dari artis pembuka membuat konser terasa lebih sederhana.
Baca juga: Kangen Band Bubar, Dodhy Sang Gitaris Ungkap Dugaan Kedzoliman
Baca juga: Spotify Perkuat Koneksi Penggemar K-Pop Lewat K-Pop ON! (온) Hub
Reputasi Ed Sheeran pun dipertanyakan karena banyak pihak menilai ia tunduk pada tekanan komersial. Di sisi lain, keputusan mundur dari Finneas, Lukas Graham, dan lainnya memperlihatkan bahwa isu Palestina telah menjadi titik solidaritas global di kalangan musisi.[]




