REALLISTMEDIA.COM – Jakarta – Badan Perfilman Indonesia (BPI) menempuh dua langkah strategis sekaligus dalam sepekan terakhir untuk memperkokoh ekosistem sinema nasional.
Langkah tersebut mencakup sektor hulu hingga hilir, mulai dari pembinaan talenta film dokumenter hingga pelestarian warisan perfilman tanah air.
Kemitraan dengan Eagle Institute Indonesia
Untuk membenahi hambatan utama pada sektor dokumenter, BPI secara resmi bermitra dengan Eagle Institute Indonesia, penyelenggara Eagle Awards Documentary Competition yang berpengalaman lebih dari satu dekade melahirkan sineas dokumenter.
Kemitraan ini berfokus mengatasi putusnya mata rantai antara tahap penciptaan gagasan, proses produksi, hingga penayangan kepada penonton. Menurut Ketua Umum BPI, Fauzan Zidni, kolaborasi ini meliputi lima pilar utama:
- Pengembangan dan produksi
- Penyelarasan standar kompetensi
- Perluasan distribusi dan festival
- Pemetaan potensi talenta
- Penguatan advokasi kebijakan
“Lebih dari sekadar dukungan formal, kemitraan BPI dan Eagle Institute Indonesia difokuskan untuk membangun jalur nyata bagi sineas lokal—mulai dari tahap pendampingan, standardisasi kualitas industri, hingga pembuka akses ke panggung serta pasar internasional,” ucap Fauzan Zidni, dikutip Reallist Media pada Jumat, 11 September 2026.
Selama ini, kebuntuan yang kerap dihadapi pembuat film dokumenter berbakat bukan disebabkan minimnya gagasan, melainkan ketiadaan alur pasti dari ranah produksi menuju rantai distribusi.
Melalui sinergi ini, kedua pihak berkomitmen memberikan ruang pemutaran yang lebih luas bagi karya dokumenter tanah air, baik di skala nasional maupun internasional.
Pelestarian Arsip Sinema Nasional
Sebagai bagian dari upaya menjaga warisan perfilman Indonesia, BPI menggelar Kelompok Diskusi Terpumpun (FGD) bertajuk “Pengelolaan Koleksi dan Konservasi” pada 3 September 2026 di Gedung E Kemendikbud, Jakarta Pusat.
Diskusi ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, termasuk lembaga pemerintah, komunitas, pengelola festival, dan rumah produksi. Empat narasumber kunci hadir:
- Achmad Dedi Faozi (Arsip Nasional Republik Indonesia/ANRI)
- Rizka F. Akbar (Koordinator Utama Tim Kerja Pengarsipan Audio Visual/Film Kemendikbud)
- Aditya Martodiharjo (SIKLUS)
- Intan Nadya Maulida (Manajer Program JAFF Archive)
Masukan dari perwakilan Museum Penerangan, TVRI, UICS, PFN, dan para pegiat arsip lainnya turut memperkaya dinamika pembahasan.
Fokus Utama Diskusi
Diskusi menegaskan pentingnya memperkuat koordinasi dan kolaborasi lintas sektor. Beberapa fokus utama yang teridentifikasi meliputi:
- Konsolidasi jaringan: menyatukan upaya sektoral dalam jejaring koordinasi antarlembaga.
- Penanganan kendala operasional: keterbatasan fasilitas, pendanaan, SDM ahli, hingga kelangkaan perangkat pemutar.
- Standardisasi kerja: keselarasan terminologi, standar metadata, dan alur kerja pengarsipan.
- Pemanfaatan digitalisasi: memperluas aksesibilitas dan pengamanan data tanpa mengabaikan medium asli.
- Dampak luas preservasi: manfaat bagi publik, pendidikan, penelitian, serta penguatan ekosistem kebudayaan.
Salah satu gagasan utama yang mencuat adalah urgensi pembentukan sebuah hub atau simpul bersama. Wadah kolaboratif ini ditujukan untuk memfasilitasi berbagi fasilitas, teknologi, basis data, serta kepakaran yang selama ini sukar dijangkau secara mandiri oleh tiap lembaga.
Tindak Lanjut Konkret
Sebagai tindak lanjut, BPI bersama para pegiat preservasi akan menyusun pemetaan komprehensif atas ekosistem pelestarian film nasional. Langkah ini mencakup evaluasi kebutuhan koordinasi dan penyelarasan standar, mulai dari kejelasan peran antarlembaga, alur kerja, hingga kesepakatan terminologi.
Selain itu, serangkaian FGD susulan akan digelar untuk membedah aspek preservasi audiovisual yang lebih spesifik, seperti digitisasi dan restorasi, tata kelola HAKI serta hak akses, hingga perumusan kebijakan pelestarian sesuai amanat UU Perfilman.
BPI memberikan apresiasi atas sikap terbuka dari seluruh pemangku kepentingan yang hadir. “Kami berkomitmen untuk konsisten menjadi platform inklusif yang menyerap berbagai aspirasi demi menjaga ingatan kolektif sinema Indonesia,” tegas BPI dalam pernyataan resmi.
Akses Informasi
Langkah strategis BPI melalui kemitraan dokumenter dan FGD pelestarian arsip menegaskan komitmen lembaga ini dalam memperkuat ekosistem sinema nasional.
Dengan dukungan lintas sektor, diharapkan film dokumenter Indonesia semakin mendapat ruang pemutaran luas, sementara arsip sinema nasional terjaga untuk generasi mendatang.
Baca juga: Hadirkan Karya Danang Hadi, Pameran Seni Grafis Print Parade #4 Digelar di Bantul
Baca juga: 5 Komika Indonesia Favorit Vikri Rasta, dari Pandji hingga Dany Beler
Informasi lebih lanjut mengenai perkembangan kerja sama ini bisa diakses melalui akun Instagram @bpi_indonesiafilmagency dan LinkedIn linkedin.com/company/badanperfilmanindonesia/. []




