REALLISTMEDIA.COM – Jakarta – Internet adalah suatu hal yang telah mengubah kehidupan dan cara pandang manusia secara total. Semenjak munculnya teknologi ini, banyak tercipta hal-hal baru yang menjadi awal dari sesuatu yang besar dan mungkin tak pernah disangka-sangka. Salah satunya adalah fenomena kemunculan band yang nantinya menjadi sejarah dalam industri musik Inggris, Arctic Monkeys.
Cerita dari band yang terbentuk tahun 2002 di High Green, Sheffield, Inggris, ini bermula ketika Alex Turner diberikan gitar sebagai hadiah oleh kedua orang tuanya. Ia lalu mengajak teman-temannya, Andy Nicholson, Matt Helders, serta Jamie Cook, untuk membentuk sebuah band.
Dengan Alex dan Jamie yang memang sudah menguasai instrumen gitar sebelumnya, serta Andy Nicholson yang juga sudah membawa bass, membuat Matt Helders harus mengisi posisi drummer.
Tahun 2003 menjadi awal perjalanan karier bermusik Arctic Monkeys. Setelah panggung pertamanya di sebuah pub lokal, The Grapes, mereka mulai merekam demo yang berisi 18 lagu pertamanya dan membagikannya secara gratis.
CD demo ini kemudian diberi nama Beneath the Boardwalk dan mulai masif setelah seorang yang menerima CD tersebut membagikannya ke forum MySpace, yang setelahnya membuat mereka menerima kontrak dari Domino Records.Hal ini juga yang membuat perubahan pada bagaimana cara musisi mempromosikan karyanya.
Arctic Monkeys merilis debut albumnya, Whatever People Say I Am, That’s What I’m Not, pada 23 Januari 2006. Album ini mencetak sejarah dengan menjadi penjualan album tercepat dalam sejarah musik Inggris, dengan terjual sebanyak 360.000 kopi dalam minggu pertama perilisannya.
Dengan mengusung konsep kehidupan anak muda Inggris, Alex Turner berhasil menyampaikan pesan lewat lirik-liriknya yang jujur tanpa meninggalkan kesan cheesy. Lagu seperti Mardy Bum, When the Sun Goes Down, dan The View from the Afternoon sukses mendapatkan tempat di hati pendengar berkat idenya yang segar dan baru.
Kendati kesuksesan di album pertamanya, sang bassist, Andy Nicholson, memilih hengkang dari band karena merasa kelelahan saat menjalani tur. Ia kemudian digantikan Nick O’Malley yang juga merupakan teman dari lingkungan sekitar mereka.
Favourite Worst Nightmare sebagai album kedua mereka menjadi penghubung tongkat kesuksesan dari album pertama. Konsep dan rasa musikal yang lebih berat, terang, dan ambisius tercermin dari bagaimana lagu-lagu di album ini terdengar sangat cepat. Alex Turner sendiri menyatakan bahwa saat itu mereka seperti kehilangan kendali dan merasa terburu-buru.
“Ya, itu karena kami sendiri cukup hilang kendali. Rasanya seperti, kita harus cepat! Sekarang! Sekarang!” Kata Alex dalam wawancaranya bersama Stereogum, dikutip Reallist Media pada Selasa, 12 Agustus 2027.
Kecintaan mereka pada film klasik juga terlihat pada penerapan suara synthesizer pada trek terakhirnya yang berjudul 505. Suara itu diambil dari film The Good, the Bad and the Ugly.
Di tahun 2008, Arctic Monkeys mulai menulis materi album ketiganya, Humbug, di studio Rancho De La Luna, Los Angeles, Amerika Serikat, dengan bantuan frontman Queens of the Stone Age, Josh Homme. Berkat bantuannya, Arctic Monkeys dapat mengeksplorasi sound yang lebih gelap di album ini. Trek seperti Pretty Visitors, Crying Lightning, dan The Jeweller’s Hand benar-benar memberikan rasa baru bagi para pendengarnya.
Cornerstone, salah satu lagu di album ini, juga menjadi cara Alex Turner bereksplorasi dengan tulisannya. Ia juga mengatakan bahwa lagu ini menjadi salah satu tulisan lirik favoritnya selama berkarier. Cukup unik bagaimana Cornerstone menjadi salah satu lagu yang menggunakan progresi mayor, tetapi mempunyai lirik yang penuh dengan kejutan.
Suck It and See sebagai album keempat mengusung konsep yang lebih cerah. Matt Helders mengatakan bahwa lagu-lagu album ini sedikit lebih pop dan mudah didengarkan dibanding album sebelumnya. Album ini juga lebih mudah dinikmati oleh para fans dan mereka sendiri. Album ini juga menjadi sebuah sejarah bagi mereka karena empat kali mencapai nomor 1 di chart album Inggris.

Menjadi album ke-5 dari band ini, AM menjadi album dengan kesuksesan terbesar. Dirilis pada 9 September 2013, album ini telah meraih miliaran stream di Spotify. Dengan lagu-lagu teratasnya seperti Why’d You Only Call Me When You’re High?, Do I Wanna Know?, dan No. 1 Party Anthem, mereka sukses menggapai banyak pendengar baru di seluruh dunia.
Alex menjelaskan bahwa album ini menjadi album yang paling asli dengan menggabungkan hip-hop dengan ketukan 70s rock, tercermin pada lagu Arabella yang menurutnya paling jelas menggambarkan penggabungan dua elemen tersebut. Sang frontman tersebut juga mengatakan bahwa eksperimennya pada penulisan lirik tercurahkan dengan memasukkan puisi John Cooper Clarke pada lagu I Wanna Be Yours.
Setelah perjalanan beruntun studio album yang panjang, Arctic Monkeys memutuskan vakum terlebih dahulu pada tahun 2014 setelah menyelesaikan AM Tour. Namun, dua tahun setelahnya, Alex Turner mengonfirmasi BBC Radio Sheffield bahwa Arctic Monkeys telah siap kembali dengan album barunya.
Di album ke-enamnya, Arctic Monkeys mengambil jalan yang sangat berbeda dari album terdahulunya. Perubahan ini menjadi salah satu transformasi drastis yang paling dibicarakan dalam sejarah band rock modern. Tranquility Base Hotel & Casino mengambil arah musik lounge pop, balada, dan orkestrasi yang cukup rumit. Album ini juga mengambil latar sebuah hotel yang berada di bulan.
“Mungkin itu ada hubungannya sama buku-buku yang lagi aku baca dan film-film yang sedang aku tonton waktu itu. Kayaknya semuanya berawal dari ketertarikanku dengan sci-fi dan dunia-dunia yang diciptakan di dalamnya, ide tentang perjalanan luar angkasa, perjalanan waktu, dan semacamnya. Hal-hal seperti itu sebenarnya sering dipakai untuk menyampaikan sesuatu tentang dunia yang kita tinggali sekarang,” Ucap Alex.
Perubahan drastis tersebut disebabkan Alex Turner yang merasa bahwa gitar sudah lagi tak memberikannya inspirasi dan mulai menulis lagu menggunakan piano.
“Gitar sudah tidak lagi memberiku ide. Setiap kali saya duduk dan memegang gitar, saya selalu merasa ragu lagu itu akan dibawa ke mana. Saya sudah punya gambaran yang cukup jelas tentang apa yang mungkin saya hasilkan, dan itu sangat bertolak belakang dengan apa yang saya rasakan ketika duduk di depan piano,” Tuturnya.
The Car sebagai album ke-tujuh sekaligus album terakhir band ini, memperdalam nuansa lounge pop yang lebih dalam pada album sebelumnya. Dengan tempo-tempo di lagu seperti Body Paint dan There’d Better Be a Mirrorball yang jauh lebih lambat dari album sebelumnya, terasa sangat menyatu dengan style vokal Alex Turner yang baru dan lebih berat.
Pada penampilan langsungnya, Arctic Monkeys turut menurunkan semua tempo lagu di rilisan pertamanya. Upaya ini dilakukan agar setlist lagu mereka terdengar lebih menyatu. Selain itu, di usia 36 tahun, Alex Turner mengakui lagu-lagu lama Arctic Monkeys yang bertempo dan berenergi tinggi mulai terasa lebih berat secara fisik. Ia bahkan mengaku mulai kehabisan napas saat membawakan lagu-lagu tersebut.
“Musim panas ini kami memainkan ‘Ritz to the Rubble’ dan rasanya lagu itu sudah tidak lagi terasa sealami dulu. Ada kalanya saya merasa seperti sedang membawakan lagu orang lain, tetapi saya rasa sekarang sudah tidak seperti itu lagi. Saya sangat menikmati membawakan lagu tersebut. Dan sekarang, di usia 36 tahun, saya mulai sedikit kehabisan napas ketika membawakan lagu-lagu yang lebih berat dan penuh energi.”
Baca Juga: Profil Tupac Shakur, Legenda Hip-Hop dan Keadilan yang Tertunda
Baca Juga: Profil Laufey, dari Reykjavík ke Grammy dan Rencana Konser di Jakarta
Rilisan terakhir Arctic Monkeys sendiri adalah Opening Night, yaitu sebuah karya yang berada pada album bertajuk HELP(2), yang bertujuan menggalang dana untuk bantuan sosial kepada anak-anak yang membutuhkan.
Magang
Kahfi Reihan
Jurnalistik, UIN Syarif Hidayatullah
Kamis, 10 September 2026




