REALLISTMEDIA.COM – Jakarta – Industri perfilman tanah air kembali memperkaya ragam tontonannya melalui kehadiran sebuah proyek sinema terbaru yang mengangkat isu psikologi sosial dan realitas kehidupan remaja.
Rumah produksi DLK Pictures dengan bangga mengumumkan kerja sama strategis bersama Inhype Pictures dalam memproduksi film drama komedi bertajuk Yang Disebut Nakal.
Film ini berada di bawah arahan produser Diana Limbong serta Eksekutif Produser Ryan Prasetyo, dengan menggandeng sutradara berpengalaman Benni Setiawan untuk memimpin jalannya proses kreatif penggarapan film tersebut.
Berbeda dari film-film bertema remaja pada umumnya yang lazimnya menyoroti perspektif anak-anak dengan predikat “baik”, film Yang Disebut Nakal mengambil pendekatan naratif yang berani dengan membalikkan sudut pandang tersebut.
Fokus cerita diarahkan pada sekelompok anak muda yang selama ini kerap diidentifikasi melalui stigma negatif atau label “anak nakal”.
Label tersebut dikupas secara mendalam sebagai bentuk manifestasi dari keresahan, suara hati, dan isi kepala mereka yang sering kali terabaikan oleh lingkungan orang dewasa di sekitarnya.
Daya tarik utama dari film Yang Disebut Nakal terletak pada keunikan premis serta latar tempat yang dihadirkan, yakni sebuah kamp pelatihan pembinaan mental dan karakter yang berlokasi di kawasan terpencil.
Di tempat ini, elemen alam liar dilibatkan secara aktif sebagai bagian dari proses pembinaan para remaja.
Kamp tersebut merepresentasikan sebuah lingkungan disiplin yang menuntut adaptasi tinggi. Melalui benturan ego, dinamika emosional, kepedihan, hingga momen humor, para tokoh digiring untuk melalui proses pendewasaan yang sarat makna.
Di bawah kepemimpinan sutradara Benni Setiawan, film ini dirancang untuk menyeimbangkan unsur komedi dan drama keluarga secara proporsional. Keseharian para remaja ditempatkan sebagai esensi utama cerita yang tidak sekadar mengandalkan kelucuan semata, melainkan menyajikan perenungan mendalam mengenai pembentukan karakter.
Berbicara dalam konferensi pers di Jakarta, Ryan Prasetyo selaku Eksekutif Produser INHYPE Pictures memaparkan pandangannya mengenai relevansi cerita film ini dengan fenomena sosial di tengah masyarakat.
“Kadang kita terlalu cepat menilai seseorang dari perilakunya, tanpa benar-benar mengetahui apa yang sedang dia hadapi,” tutur Ryan Prasetyo, dikutip Reallist Media pada Rabu, 21 Oktober 2026.
“Kami ingin ‘Yang Disebut Nakal’ menjadi film yang menghibur sekaligus mengajak penonton membuka perspektif, terutama ketika melihat anak-anak dan remaja yang sedang mencari arah,” kata dia.
Senada dengan hal tersebut, produser DLK Pictures, Diana Limbong, menyatakan bahwa proyek ini dipersiapkan untuk menjangkau spektrum penonton yang luas dari berbagai lapisan generasi.
“Kami melihat ada banyak hal yang bisa dibicarakan melalui cerita remaja, mulai dari persahabatan, kedisiplinan, hubungan keluarga, sampai kebutuhan untuk didengar. Semua itu kami kemas dalam sebuah film yang punya humor dan kehangatan, tetapi tetap memberi ruang untuk merenung,” tutur Diana Limbong.
Sementara itu, sutradara Benni Setiawan menekankan pentingnya kompleksitas karakter dalam membangun kedekatan emosional dengan penonton. Menurutnya, para tokoh dalam film ini sengaja digambarkan sebagai individu yang utuh, lengkap dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
“Saya ingin penonton mengenal karakter-karakter ini melalui keseharian mereka. Ada hal yang lucu, ada yang menyebalkan, ada juga yang menyentuh. Justru dari hal-hal kecil seperti itu, kita bisa melihat bahwa setiap orang punya cerita yang tidak selalu terlihat dari luar,” ujar Benni Setiawan.
Guna memperkuat kualitas lakon dan dinamika cerita, film Yang Disebut Nakal menghadirkan deretan pemeran lintas generasi. Jajaran pemain senior yang sarat pengalaman seperti Donny Damara, Boris Bokir, dan Aming turut memperkuat jajaran pemeran utama.
Kehadiran para aktor senior tersebut diimbangi oleh performa energik dari para aktor muda berbakat tanah air, di antaranya El Putra Sarira, Fatih Unru, Giulio Parengkuan, Jeremie Moeremans, Andrew Baret, Richard Derick, hingga Rafi Sanjaya.
Konvergensi karakter dari latar belakang pemeran yang beragam ini diharapkan mampu menciptakan ketegangan sekaligus keharmonisan naratif yang natural, khususnya ketika para tokoh dituntut untuk hidup berdampingan di lingkungan kamp yang menguji batas adaptasi mereka.
Baca juga: Sinopsis Film Pemburu Pemangsa, Aksi Empat Jurnalis Memburu Predator Anak
Baca juga: Marvel Umumkan Serial Zodiac, Siap Tayang di Disney+ pada 2028
Melalui penawaran sinematik ini, film Yang Disebut Nakal diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan alternatif di bioskop, tetapi juga menjadi medium reflektif bagi masyarakat untuk meninjau kembali urgensi komunikasi, empati, serta dampak dari pelabelan sosial terhadap generasi muda. []




