REALLISTMEDIA.COM – Jakarta – Musisi asal Inggris, Ed Sheeran, akhirnya angkat bicara mengenai konflik Palestina dan Israel di tengah kontroversi pencopotan rapper Macklemore dari daftar artis pembuka tur dunianya, The Loop Tour.
Dalam konser di Lincoln Financial Stadium, Philadelphia, Sheeran membuka penampilannya dengan pernyataan yang jarang ia lakukan, yakni berbicara tentang isu politik.
“Apa yang terjadi di Israel dan di Festival Musik Nova pada 7 Oktober sangat mengerikan dan memperparah penderitaan Yahudi selama berabad-abad. Apa yang terjadi di Gaza adalah bencana dan tidak dapat dibenarkan, serta tidak proporsional,” tutur Ed Sheeran, dikutip Reallist Media pada Selasa, 22 September 2026.
“Hati kita bisa hancur oleh skala kehancuran dan hilangnya nyawa warga sipil, nyawa anak-anak, dan ketidakadilan sistemik yang kita saksikan terjadi di Tepi Barat tidak dapat diabaikan,” ujar dia lagi.
Ed Sheeran mengaku selama ini berusaha tidak berkomentar tentang politik karena ingin musiknya menjadi simbol persatuan dan kemanusiaan. Namun, kontroversi dengan Macklemore menempatkannya di tengah perdebatan kebebasan berbicara dan isu politik yang kompleks.
“Tetapi minggu ini, kritik itu tentang sesuatu yang jauh lebih penting, dan saya harus mengambil dan membuat keputusan yang sulit, dan saya membuat kesalahan, dan saya sangat, sangat menyesal,” ujarnya.
Konser Tanpa Artis Pembuka
Keputusan mencopot Macklemore dari daftar pembuka tur menuai reaksi keras. Macklemore sebelumnya menampilkan cuplikan Gaza dan menyuarakan dukungan untuk Palestina saat tampil di Stadion MetLife, New Jersey, pada 4 dan 5 September.
Sebagai bentuk solidaritas, sejumlah musisi pendukung Ed Sheeran seperti Aaron Rowe, Finneas O’Connell, Lukas Graham, dan band pengiring Beoga mengumumkan mundur dari tur. Akibatnya, Sheeran tampil seorang diri di Philadelphia tanpa artis pembuka.
Dalam pernyataannya, Ed Sheeran menegaskan bahwa konsernya harus tetap menjadi ruang aman bagi semua orang.
“Saya ingin konser musik saya selalu menjadi ruang yang aman bagi semua orang. Di sisi lain, menghormati komitmen kepada penggemar juga menjadi hal yang sangat penting bagi jati diri saya,” katanya.
Perjalanan Sulit di Tengah Kritik
Ed Sheeran mengakui belum pernah membuka konser dengan membahas pandangan politiknya. Ia terbiasa menghadapi kritik terhadap karya musik, namun kali ini kritik yang datang menyangkut isu yang jauh lebih besar.
Ia menekankan bahwa dirinya sedang berusaha mendengarkan lebih banyak, belajar, dan mencari cara untuk membantu para korban di masa yang ia sebut “mengerikan”.
Kontroversi ini menyoroti dilema besar bagi musisi internasional, yakni apakah tetap netral demi menjaga komersialitas, atau bersuara lantang demi solidaritas kemanusiaan.
Macklemore memilih jalur kedua dengan lagu protes Hind’s Hall, sementara Sheeran mencoba menyeimbangkan antara komitmen kepada penggemar dan sikap moral di tengah konflik.
Harga Tiket Konser Anjlog
Harga tiket konser Ed Sheeran di tur The Loop Tour dilaporkan turun drastis hingga hampir 50% setelah kontroversi pencopotan Macklemore sebagai artis pembuka.
Di Philadelphia, tiket yang semula dijual sekitar USD 100 (Rp 1,78 juta) kini bisa didapat mulai dari USD 42–51 (Rp 747 ribu–Rp 907 ribu).
Warisan Musik dan Tanggung Jawab Sosial
Sebagai pelantun Thinking Out Loud dan Shape of You, Sheeran dikenal sebagai musisi yang jarang bersuara soal politik.
Namun, pernyataannya di Philadelphia menandai titik balik dalam kariernya. Ia menyadari bahwa musik tidak bisa sepenuhnya lepas dari realitas sosial dan politik.
Dengan tur The Loop Tour yang masih berlangsung di 22 kota Amerika Utara, langkah Sheeran akan terus diamati publik.
Baca juga: Ikut Campur di Kisruh Macklemore Vs Ed Sheeran, Pink Rilis Klarifikasi
Baca juga: Vokalis BMTH, Oliver Sykes Angkat Bicara Soal Macklemore, Ed Sheeran dan Solidaritas Palestina
Apakah ia akan mempertahankan sikap netral, atau semakin vokal dalam menyuarakan solidaritas kemanusiaan, menjadi pertanyaan besar bagi penggemar dan komunitas musik global.




