REALLISTMEDIA.COM – Jakarta – Dunia perfilman Indonesia pada pertengahan tahun 2025 lalu dikehadirkan sebuah tontonan drama romantis yang sarat akan nilai kehidupan pedesaan melalui film Seribu Bayang Purnama.
Dirilis secara resmi pada 3 Juli 2025, film besutan sutradara Yahdi Jamhur ini menawarkan narasi yang membumi, memadukan isu krusial di sektor pertanian dengan dinamika hubungan asmara yang terhalang benturan kepentingan keluarga.
Bagi penonton yang melewatkan penayangannya di bioskop, film berdurasi 2 jam 8 menit produksi Baraka Films ini kini dapat disaksikan secara legal melalui platform streaming Vidio lewat fitur Rental.
Cerita dalam film ini berpusat pada karakter Putro (diperankan oleh Marthino Lio), seorang sarjana lulusan pertanian yang harus menghadapi kenyataan pahit ketika impian besarnya untuk meniti karier di kota kandas.
Gagal mengejar ekspektasi urban, Putro mengambil keputusan besar untuk pulang kembali ke kampung halamannya.
Alih-alih menyerah pada keadaan, Putro berbekal ilmu akademis yang dimilikinya bertekad menghidupkan kembali lahan peninggalan keluarga.
Ia memperkenalkan serta menerapkan metode pertanian alami yang berkelanjutan, sebuah pendekatan yang tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga bertujuan mengubah paradigma konvensional masyarakat desa setempat.
Namun, niat baik Putro tidak berjalan mulus. Langkah pembaharuannya langsung berbenturan dengan berbagai tantangan di lapangan. Ia tidak hanya harus membuktikan efektivitas metode pertaniannya kepada warga desa, tetapi juga harus menghadapi persaingan sengit antar-keluarga yang telah mengakar sejak lama.
Komplikasi cerita semakin mendalam ketika Putro menjalin hubungan asmara dengan Ratih (diperankan oleh Givina Lukita Dewi). Hubungan ini menghadirkan konflik batin yang pelik karena Ratih merupakan putri dari keluarga rival yang selama ini berseteru dengan keluarga Putro.
Situasi bertambah pelik lantaran latar belakang pekerjaan Ratih yang mengelola sebuah toko penyedia pupuk kimia.
Perbedaan prinsip dan pandangan yang kontras mengenai metode pertanian, antara idealisme Putro yang mengusung pertanian alami dan realitas bisnis keluarga Ratih, turut menjadi bumbu dinamika yang menguji ketahanan hubungan mereka berdua.
Apakah cinta mampu meruntuhkan tembok permusuhan antarkeluarga dan perbedaan prinsip hidup tersebut? Pertanyaan inilah yang menjadi daya tarik utama penggerak alur cerita film garapan penulis naskah Swastika Nohara ini.
Keunggulan lain dari film Seribu Bayang Purnama terletak pada pemilihan latar tempatnya. Proses pengambilan gambar (shooting) dilakukan secara langsung di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pemilihan lokasi ini berhasil menghadirkan visual pedesaan yang asri, tenang, namun menyimpan ketegangan sosial yang kuat di balik kesederhanaannya.
Dari segi kualitas akting, film ini didukung oleh deretan aktor dan aktris berbakat tanah air. Selain Marthino Lio dan Givina Lukita Dewi sebagai pemeran utama, film ini turut dimeriahkan oleh kehadiran aktor senior dan berpengalaman seperti Nugie, Whani Darmawan, serta Aksara Dena, yang semakin memperkuat bobot emosional di setiap adegan keluarga.
Baca juga: Dibintangi Boris Bokir, Film Yang Disebut Nakal Bakal Hadirkan Kisah Drama Remaja
Baca juga: Sinopsis Film Pemburu Pemangsa, Aksi Empat Jurnalis Memburu Predator Anak
Film Seribu Bayang Purnama dapat diakses dengan mudah melalui Vidio menggunakan fitur Rental, di mana penonton dapat menyewa film secara individual untuk menikmati kisah lengkap perjuangan Putro dan Ratih. []




