REALLISTMEDIA.COM – Jakarta – Ada satu hal yang mulai terlihat jelas dari hubungan Papa Acid dengan Art Jack Musik, yakni sekali bertemu ternyata tidak pernah cukup. Setelah sebelumnya ikut meramaikan Art Jack volume pertama di Access Coffee, Depok, band asal Jember ini kembali diajak tampil dalam gelaran Art Jack Vol. 2.
Kali ini panggung bergeser ke selatan Jakarta, tepatnya di Onkel Johns, Tebet, Jumat malam, 11 September 2026. Nama acaranya pun tidak tanggung-tanggung: Syaka-Laka Doom Doom.
Papa Acid mendapat giliran tampil di slot keenam sekitar pukul 22.20 WIB. Sebelum mereka, panggung sudah diisi oleh IM RAPHAEL, TONO PRANCE, BURN, EUNOIA NEBULA, dan ROCKAFILLER. Setelah Papa Acid, masih ada KULTUS dan VELVETHELL.
Delapan penampil dalam satu malam. Namun begitu giliran Papa Acid naik, urusan siapa tampil nomor berapa rasanya tidak lagi penting.
Ruang Kecil dengan Energi Besar
Onkel Johns bukanlah venue dengan jarak belasan meter antara band dan penonton. Justru itu yang membuat suasana semakin intens.
Penonton berdiri hanya beberapa langkah dari pemain. Badan-badan merapat di depan panggung, ada yang mengangkat ponsel, ada yang naik ke pundak teman, bahkan di satu momen seseorang benar-benar terangkat di atas kerumunan.
Crowd surfing? Ada. Dorong-dorongan? Ada. Mikrofon masuk ke kerumunan? Juga ada.
Jarak antara yang manggung dan yang menonton malam itu begitu tipis. Dinding Onkel Johns yang jauh dari kesan steril, sudut bangunan yang kasar, cahaya redup, kabel berserakan, gitar, badan yang terus bergerak, sampai ponsel yang sesekali terangkat di atas kepala, semuanya menyatu.
Papa Acid jelas bukan tipe band yang cocok diperlakukan dengan penonton berdiri rapi sambil menyilangkan tangan. Dari jarak sedekat itu, pemain dan penonton seperti saling berebut ruang.
Gitaris berada nyaris di muka crowd, rambut beterbangan, tubuh membungkuk mengikuti permainan gitar, sementara di depan mereka orang-orang sibuk menciptakan kekacauan kecilnya sendiri.
Papa Acid dengan Formasi Baru
Menariknya, Papa Acid yang tampil di Syaka-Laka Doom Doom bukan lagi dengan formasi persis sama seperti beberapa bulan sebelumnya. Sejak Juli 2026, band ini melakukan regenerasi personel.
Tiga wajah lama masih bertahan: Gaskar di vokal, Jeremi di bass, dan Ari di drum. Mereka kini ditemani Cielegato di gitar, Julius di gitar kedua, serta Adit di keyboard.
Namun malam itu ada sedikit perubahan. Jeremi, sang bassist asli, sedang sibuk dengan urusan pribadinya. Papa Acid pun meminjam Tosa, basis dari band Kendrock sekaligus mahasiswa semester lima Institut Kesenian Jakarta. Tosa juga aktif di band lain bernama Vanilla Party, di mana ia berposisi sebagai gitaris.
Enam orang. Dua gitar. Satu keyboard. Formasi yang lumayan ramai untuk sebuah gigs dengan jarak penonton dan pemain yang nyaris tanpa sekat.
“Kami ingin tetap menjaga energi meski dengan formasi baru. Justru regenerasi ini membuat Papa Acid semakin segar,” ucap Gaskar, dikutip Reallist Media pada Senin, 14 September 2026.

Dari Jember ke Jakarta
Papa Acid sendiri terbentuk pada Mei 2021 di Jember, sebelum akhirnya berdomisili di Jakarta. Mereka memainkan rock dengan tarikan progresif, sekaligus membawa unsur teatrikal ke atas panggung. Materi mereka tidak hanya berkutat pada romansa, tetapi juga isu sosial, kemanusiaan, hingga kehidupan modern.
Sejauh ini Papa Acid telah merilis satu album berjudul Nice Boys Who Play Rock N’ Roll. Album tersebut berisi sembilan lagu yang masing-masing berjudul Hey Girl, Condescending Man, Sarayyy, Weeducation, Junk, The Girl Next Door, Master of Your Mind, The Unforgotten, dan Demon.
Dari sembilan nomor itu, Weeducation menjadi lagu Papa Acid yang paling banyak didengarkan di Spotify.
Album ini juga sudah dibawa keluar kandang lewat tur bertajuk Nice Boys Who Play Rock N’ Roll Tour. Rute panjang tur ini meliputi Jakarta, Bogor, Tangerang, Jember, Sidoarjo, Malang, Surabaya, Banyuwangi, Lumajang, hingga Bali.
Papa Acid bukan lagi band yang baru belajar mengemas set untuk dibawa dari satu panggung ke panggung lain. Mereka sudah cukup jauh berjalan, dan di tengah perjalanan itu, Art Jack Musik kini sudah dua kali masuk dalam daftar persinggahan mereka.
Dua Kali Diajak Art Jack
Pertemuan pertama terjadi di Access Coffee, Depok, dalam Art Jack volume pertama. Ketika Art Jack menggelar hajatan keduanya, nama Papa Acid kembali masuk lineup. Kali ini panggung pindah ke Onkel Johns, Tebet.
Hal kecil seperti ini punya arti besar dalam skena gigs. Sebuah band datang sekali, kemudian dipanggil lagi. Penyelenggara bertemu band yang sama di panggung berbeda. Penonton lama mungkin bertemu lagi, orang baru ikut masuk, lingkarannya pelan-pelan membesar.
Syaka-Laka Doom Doom akhirnya menjadi pertemuan kedua Papa Acid dan Art Jack Musik. Bedanya, kali ini Papa Acid datang dengan formasi yang sudah beregenerasi, memainkan sebuah venue yang sudah beberapa kali mereka kenal, lalu kembali berhadapan dengan penonton dalam jarak yang hampir tidak menyisakan sekat.
Ada badan melayang di atas crowd. Ada gitar yang dimainkan hanya beberapa langkah dari penonton. Ada ruangan Tebet yang makin terasa sempit begitu orang-orang mulai bergerak. Dan ada Papa Acid yang untuk kedua kalinya diajak Art Jack Musik untuk ikut bikin berisik.
“Art Jack selalu jadi ruang yang menyenangkan. Kami bisa bertemu penonton lama sekaligus orang baru. Energinya selalu berbeda,” kata Ari, drummer Papa Acid.
Baca juga: 8 Rekomendasi Gigs Musik Independen di Jakarta 2026
Baca juga: Man Sinner Kejutkan Skena Skate-punk Lewat Single Kembali
“Kalau nanti ada volume tiga dan mereka kembali dipanggil? Tinggal menunggu siapa yang mengajak duluan,” tuturnya. []




