REALLISTMEDIA.COM – Jakarta – Unit synthwave/darkwave/post-punk Temarram akhirnya merilis album penuh perdananya berjudul Antara Angkara, setelah lima tahun perjalanan musikal sejak terbentuk pada 2021.
Album ini menjadi tonggak penting bagi Temarram yang digawangi oleh Regga Prakarso (gitar dan programmed synthesizer), Sherina Redjo (vokal), serta Tanthowi (bass).
Album berisi delapan lagu ini membawa pendengar ke dalam lorong keruntuhan diri, sebuah ruang reflektif di mana kehidupan memaksa manusia bersimpuh dan meratap serpihan yang tertinggal, yaitu kehidupan, ketiadaan, harapan, serta penyesalan.
Perjalanan menuju album ini sebelumnya telah dibuka dengan perilisan single Pusara pada 2025, yang menjadi pengantar atmosfer kelam sekaligus emosional dari karya penuh mereka.
“Album ini adalah katarsis. Kami ingin pendengar merasakan bagaimana ambisi, harapan, dan penyesalan bisa saling bertabrakan, lalu menemukan ruang untuk menerima,” ujar personel Temarram, dikutip Reallist Media pada Selasa, 15 September 2026.
Eksplorasi Temarram dalam album ini turut diwujudkan melalui kolaborasi dengan sejumlah musisi yang membawa karakter berbeda. Otong Koil menghadirkan nuansa mencekam dalam lagu Afeksi dan Mati, sementara Gerry Lainil Fauzi dari Dirty Ass menambahkan energi amarah melalui single Aksioma.
Pandu Fuzztoni dipercaya sebagai produser sekaligus kolaborator, menghadirkan pendekatan produksi yang lebih lepas dari batas-batas sebelumnya tanpa meninggalkan karakter Temarram. Pandu juga turut menyumbangkan isian gitar penuh noise sebagai twist dalam lagu Pengakhiran Permulaan.
“Kolaborasi ini memberi nyawa baru bagi Temarram. Setiap musisi membawa energi berbeda, dan itu membuat album ini lebih hidup,” ucap Regga Prakarso.
Perjalanan musikal dalam album Antara Angkara dimulai dengan nomor Dan Kau Terlunta, yang menggambarkan penyesalan atas ambisi yang perlahan menghancurkan kehidupan. Lagu Reruntuh menghadirkan narasi mimpi-mimpi yang dirampas oleh rutinitas, sementara Aksioma (feat. Gerry Lainil Fauzi) menyuarakan amarah dari sebuah hubungan dan perpisahan.
Lagu Pusara kemudian menjadi titik balik, menghadirkan kesadaran bahwa manusia kerap memasung diri pada petaka yang diciptakan sendiri.
Refleksi berlanjut melalui lagu Tak Tergenggam, yang berbicara tentang kenyataan bahwa kehidupan hanya dapat dimiliki sebagian orang. Tembang Semesta Semesta menjadi secercah harapan di tengah kehancuran, sebelum Afeksi dan Mati (feat. Otong Koil) kembali menegaskan kegetiran realita.
Album ditutup dengan lagu Pengakhiran Permulaan, sebuah penerimaan bahwa setiap akhir akan membuka permulaan baru.
Selain musik, Temarram juga menaruh perhatian besar pada aspek visual. Untuk karya sampul album, mereka bekerja sama dengan seniman asal Finlandia, Suvi Karjalainen.
Suvi menerjemahkan album Antara Angkara sebagai sebuah ruang tempat manusia bersimpuh, sebuah gambaran yang dekat dengan isi album, yakni manusia yang berhenti sejenak di hadapan segala sesuatu yang telah runtuh, tanpa benar-benar tahu apa yang harus dilakukan setelahnya.
Sejak terbentuk pada 2021, Temarram menjadikan musik sebagai katarsis atas sisi rapuh kehidupan. Mereka sebelumnya telah merilis EP Montase pada 2022, Selubung Abadi pada 2023, serta single Pusara pada 2025.
Perilisan album penuh Antara Angkara menjadi penanda perjalanan baru mereka, sebuah karya yang menemukan napas baru di antara reruntuhan kehidupan.
Baca juga: Siapkan Album Raja Pasir, Jangar Rilis Single Air Keras
Baca juga: Rayhan Noor hingga Will Mara Terlibat di Album Bittersweet Milik Sheryl Sheinafia
Saat ini, seluruh materi dalam Antara Angkara milik Temarram sudah tersedia di berbagai platform pemutar musik digital. []




